Rabu, 27 April 2016

makalah Ganesa eksplorasi Batubara

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

ENDAPAN DAN CADANGAN BATUBARA
DI INDONESIA DAN SULAWESI TENGGARA


OLEH :


AGUS PANJI VERDHA
F1B2 13 003




KENDARI
2016


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Endapan dan Cadangan Batubara yang ada di Indonesia dan Sulawesi tenggara” tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun sebagai tugas dari mata kuliah Ganesa dan Eksplorasi Batubara.
Saya sebagai penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan  ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan dan penyusunan laporan ini.















BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Peningkatan harga bahan bakar minyak dunia yang cukup pesat akhir-akhir ini sangat berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk minyak tanah dan gas bumi di Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia mensubsidi bahan bakar minyak tanah sekitar 49 triliun rupiah per tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar 10 juta kilo liter per tahun. Pemerintah mengurangi beban subsidi tersebut dengan cara mengalihkan subsidi yang ada menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah diperoleh. 
Lokasi Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi, yakni  lempeng Benua Eurasia, lempeng Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu struktur geologi yang memiliki kekayaan  potensi pertambangan yang telah diakui di dunia.  Namun, potensi yang sangat tinggi ini masih belum tergali secara  optimal. Disamping itu, tingkat  investasi di sektor ini relatif rendah dan menunjukkan kecenderungan menurun akibat terhentinya  kegiatan eksplorasi di berbagai kegiatan pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Fraser Institute  dalam Annual Survey of Mining Companies (December 2002), iklim investasi sektor pertambangan di Indonesia tidak cukup menggairahkan. Banyak  kalangan menghawatirkan bahwa dengan kondisi  seperti ini maka masa depan, industri ekstraktif khususnya pertambangan di Indonesia akan segera  berakhir dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Kondisi ini patut disayangkan karena industri ini memberikan  sumbangan yang cukup besar bagi perekonomian nasional maupun daerah. Dampak ekonomi dari  keberadaan industri pertambangan antar lain penciptaan output, penciptaan tenaga kerja,  menghasilkan devisa dan memberikan kontribusi fiskal, iklim investasi pertambangan, tinjauan manfaat ekonomi kegiatan pertambangan, permasalahan yang dihadapi industri pertambangan dan rekomendasi kebijakan. Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI, Salah satu dukungan yang disarankan adalah pemantapan perencanaan dan pelaksanaan produksi secara terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu dapat memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Cadangan batu bara yang ada di Indonesia!
2.      Cadangan Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara !
3.      Bagaimanakah Pemanfaatan  Batubara?
4.      Bagaimana Potensi Batubara diindonesia?
1.3              Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Cadangan batu bara yang ada di indonesia
2.      Untuk mengetahui manfaat dari batu bara
3.      Untuk mengetahui potensi batu bara yang ada di indonesia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Batubara
            Batubara merupakan sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan tanah gambut. Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap batubara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lamanya waktu pembentukan yang disebut sebagai maturitas organic . Ada dua metode untuk menganalisa batubara, yaitu dengan cara analisa ultimate dan analisa proximate. Analisa ultimate adalah menganalisis seluruh elemen komponen batubara, padat atau gas. Sedangkan analisa proximate adalahmeganalisa hanya fixed carbon, bahan yang mudah menguap, kadar air dan persen abu.

2.1.1        Jenis-janis Batu bara
1.      Gambut / Peat         
               Golongan ini sebenarnya termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
2.      Lignite / Brown Coal          
         Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
3.      Sub-Bituminous / Bitumen Menengah
Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi.
4.   Bituminous  
         Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
5.   Anthracite   
         Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
http://indah4din4t4.files.wordpress.com/2009/12/peat_to_anthracite.jpg?w=655
Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.

2.1.2        Lingkungan Pengendapan Batubara
Diessel (1992) ada beberapa lingkungan pengendapan yang dapat menghasilkan endapan batubara, antara lain:
·                Gravelly braid plain dengan sub-lingkunganenvironments: bars, channels, overbank plains, swamps, and raised bogs.
·                Sandy braid plain dengan sub-environments: bars, channels, overbank plains, swamps, and raised bogs.
·                Alluvial valley and upper delta plain dengan sub-environments: channels, point bars, flood plains, swamps, fens, and raised bogs.
·                Lower delta plain dengan sub-environments: delta front, mouth bar, splays, channels, swamps, fans, and marshes.
·                Back barrier strand plain dengan sub-environments: off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamps, and marshes.
·                Estuary dengan sub-environments: channels, tidal flats, fens, and marshes.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi . Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee)yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh darichannel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis .
2.1.3        Bentuk-bentuk Endapan Batubara
Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah proses coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara.
Dikenal beberapa bentuk lapisan batubara yaitu:

·                Bentuk Horse Back
·                Bentuk Pinch
·                Bentuk Clay Vein
·                Bentuk Burried Hill
·                Bentuk Fault
·                Bentuk Fold

Ø    Bentuk Horse Back
Bentuk ini dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen yang menutupinya melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi. Tingkat perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin kuat gaya kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat perlengkungannya. Ke arah lateral lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya atau menjadi tipis. Kenampakan ini dapat terlihat langsung pada singkapan lapisan batubara yang tampak/dijumpai di lapangan (dalam skala kecil), atau dapat diketahui dari hasil rekontruksi beberapa lubang pemboran eksplorasi pada saat dilakukan coring secara sistematis. Akibat dari perlengkungan ini lapisan batubara terlihat terpecah-pecah akibatnya batubara menjadi kurang kompak.
Pengaruh air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan sebagian dari butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah akan masuk di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan apabila batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran (kontaminasi) dalam bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan anorganik, sehingga batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan, apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKg5FZkAEN5PrLuZ5aQpRv8Wj9QChfENPKkfGLQioqMsyfCPFpSNJoDR8ytyzhTbTr2-XB7PpmSobmZmTFxh4orsdMHgMYksB1kIsq1bUZADd3Xim1jBmOKqP9BbfeeEyeIcKd58XVxMbG/s320/11.jpg

Ø    Bentuk Pinch
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah. Pada umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara merupakan batuan yang plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan batubara secara setempat ditutupi oleh batupasir yang  secara lateral merupakan pengisian suatu alur. Sangat dimungkinkan, bentuk pinch ini bukan merupakan penampakan tunggal, melainkan merupakan penampakan yang berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch bervariasi dari beberapa meter sampai puluhan meter. Dalam proses penambangan batubara, batupasir yang mengisi pada alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut tergali, sehingga keberadaan fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap sebagai pengotor anorganik. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila batubara tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOapwcA4l1dDXqD3APABhTV9B3gEX55QsFqglcdqB7RKxpBYYLsVvVi_c8jRwM1AtRnQF4etVnlyiRstPD3InHETlvXMTMonZxvo7lYmwRISP4RILB-LUf8AdN4hinprMY5S5olqN_n8hg/s320/2.jpg

Ø    Bentuk Clay Vein
Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan batubara terdapat urat lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada satu seri lapisan batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang merupakan rekahan terbuka terisi oleh  material lempung ataupun pasir. Apabila batubaranya ditambang, bentukan Clay Vein ini dipastikan ikut tertambang dan merupakan pengotor anorganik (mineral matter) yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus dihilangkan apabila batubara tersebut akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.           
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTBsj6j4N5mjNhTyncZfqZQ7vvMKYtyMTzCnh8aHTOmJ3AuytTGrgSlUk7eeaaXisN0f_YNKq15k3ce5snqPWpjur1STfdCBkWjkXMF7hdwT8R6_PbpyBUBjeRSrp4bZkPwHlrTHK5YIrt/s320/3.jpg

Ø    Bentuk Burried Hill
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti “terintrusi”. Sangat dimungkinkan lapisan batubara pada bagian yang “terintrusi” menjadi menipis atau hampir hilang sama sekali. Bentukan intrusi mempunyai ukuran dari beberapa meter sampai puluhan meter. Data hasil pemboran inti pada saat eksplorasi akan banyak membantu dalam menentukan dimensi bentukan tersebut. Apabila bentukan intrusi tersebut merupakan batuan beku, pada saat proses penambangan dapat dihindarkan, tetapi apabila bentukan tersebut merupakan tubuh batupasir, dalam proses penambangan sangat dimungkinkan ikut tergali. Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan penambangan sangat diperlukan, agar fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam batubara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan dapat dikurangi sehingga keberadaan pengotor anorganik tersebut jumlahnya dapat diperkecil.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiZz2NxKD3Zo5AYbikgqr1mATQ1kUi7fwqWnDLglH2jUdW9JTMq_KWNiAzrcJPELpmOVNg73JSNcLoHj5Y7xT7dMvuU8TWhm3Jakq9Z58w9Kts0On3qY5mTeYi8EKIQ0A-IXM6OChwPLn6/s320/5.jpg

Ø    Bentuk Fault (Patahan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan mempersulit dalam melakukan perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan telah terjadi pergeseran perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam melaksanakan eksplorasi batubara di daerah yang memperlihatkan banyak gejala patahan, diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman pada hasil pemetaan geologi permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan pemboran inti, akan lebih baik bila ditunjang oleh data hasil penelitian geofisika. 
Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara dapat diikuti dengan bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila patahan-patahan secara seri didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan akan ikut hancur. Akibatnya keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak terhindarkan. Makin banyak patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi endapan batubara, makin banyak kontaminan anorganik yang terikut pada batubara pada saat ditambang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrcv31RD4HJ7nObHUM7VfBtf-XRZSEaKn9Z1ycoqgPFeD187cuWX4D-Gt6dglj_I2CmuVDzAmGSBaqhdbedD2qpx-rUvq5Enbm1joAW8yRfPmOYdSqzJqOcWUFJ2Lb1EQLuhaE50Lp0uaH/s320/6.jpg
Ø    Bentuk Fold (Perlipatan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses tektonik hingga terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih dalam bentuk sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah merupakan kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold, memberi petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut telah mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara yang diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan batubara bentuk fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan, kegiatan pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu membuat rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan batubara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGn8nmdhPZuLYil3gC7euaTNzyIxNMZbQGmYmdgi7t66_RPQM4W0RQ7BzLsrAABv9IU3OuTdo8k21SuPFqVtdGcOQfRQL8WsaJPw4SH4QQIbiuSBNq-BeWkz2PCPUX0FgrvwB_A5tWh94r/s320/7.jpg



2.1.4        Proses Pembentukan Batubara
Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Ketiga konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara yang mencakup beberpa proses, yaitu :
·               Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
·               Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
·               Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
·               Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
·               Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

2.2              Jenis Klasifikasi Batubara
2.2.1        Batubara sebagai Energi
Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari “coal”. Disebut batubara mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang kayu. Defenisi dari batubara itu sendiri menurut Muchjidin (2005).
“Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash” tersebar sebagai partikel zat mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batu meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan residu yang disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenisasikan untuk membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap”.
Dari defenisi yang lengkap ini salah satunya adalah selain batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap di PLTU, beberapa jenis batubara juga dapat diubah menjadi bahan bakar minyak melalui cara pencairan batubara atau tersebut liquifaksi (coal liquiefaction).
Pemakaian batubara sebagai energi telah dilakukan pada abad 19 yaitu untuk menggerakkan lokomotif dan mesin uap. Perkembangan selanjutnya tahun 1949 di Pengaron sebuah dusun di sepanjang Sungai Mahakam (Kaliman Timur) oleh perusahaan Belanda “Oost Borneo Ma’atsc Happij” dioperasikan tambang batubara.
2.2.2        Batubara Sebagai Bahan Bakar Minyak
Secara umum batubara Indonesia termasuk bahan bakar. Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pembuatan gas atau gasifikasi dan pencairan batubara atau liquifaksi (coal liquefaction). Dalam proses gasifikasi semua gas organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk gas terutama karbonmonoksida, karbondioksida dan hidrogen. Gas ini kemudian dapat diubah menjadi bahan-bahan kimia seperti pupuk dan metanol.
Proses liquifaksi tujuannya adalah mengubah batubara menjadi minyak. Penelitian oleh SASOL (perusahaan yang mengurusi pencairan batubara) di Afrika Selatan telah berhasil mengubah batubara menjadi minyak (Gasoline, Diesel, Jet Fuel ), gas maupun bahan kimia lainnya sehingga Afrika Selatan telah “survive” mengatasi masalah BBM 50 persen kebutuhan BBM Afrika dipasok dari Pabrik Pencairan Batubara sementara SASOL sendiri terdaftar di bursa efek Afrika Selatan dan New York. Produksi SASOL sekitar 150.000 barel/hari.
Pemerintah Indonesia pada tahun 2004 lalu telah mempunyai rencana untuk membangun pilot plant untuk program pencairan batubara di Cirebon (Jawa Barat). Maksud dari pilot plant ini adalah sebagai uji coba dan sekaligus untuk meyakinkan semua pihak bahwa program pencairan batubara ini dapat dilakukan. Teknologi yang akan digunakan adalah teknologi Improve Brown Coal Liquefaction (IBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. Sementara Jepang sendiri sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton/hari di Victoria, Australia.
Pada tahun 2002 pemerintah China telah mengambil keputusan penting, yaitu tidak akan menggantungkan diri pada impor minyak mentah. Sebagai pengganti impor minyak mentah, pemerintah China membuat program pencairan batubara. Untuk mewujudkan program ini perusahaan terbesar di China Shen Hua Group menggandeng perusahaan Amerika Headwaters Technology Innovation (HTI) untuk pencairan batubara secara langsung melalui teknologi yang dikembangkan oleh HTI.
2.3              Penyebaran Batubara
Batubara merupakan sumber energi masa depan. Batubara merupakan batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia yang mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.
Penyebaran endapan batubara di Indonesia ditinjau dari sudut geologi sangat erat hubungannya dengan penyebaran formasi sedimen yang berumur tersier yang terdapat secara luas di sebagian besar kepulauan di Indonesia. Batubara di Indonesia dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan cara terbentuknya.
Ø    batubara paleogen yaitu endapan batubara yang terbentuk pada cekungan intramontain terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.
Ø    batubara neogen yakni batubara yang terbentuk pada cekungan forelandterdapat di Tanjung Enim Sumatera Selatan.
Ø    batubara delta, yaitu endapan batubara di hampir seluruh Kalimantan Timur .
Menurut Amri (2000) formasi batubara tersebar di wilayah seluas 298 juta hektar di Indonesia, meliputi 40 cekungan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Jawa. Dari jumlah cekungan tersebut baru 13 cekungan dengan luas sekitar 74 juta ha (sekitar 25%) yang sudah diselidiki. Sementara cekungan yang telah dilakukan penyelidikan terbatas sampai pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi  maupun eksploitasi baru 3% atau seluas 2,22 juta ha. Oleh karena itu perlu ditingkatkan penyelidikan tentang keberadaan batubara tersebut. Salah satu metoda gofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan batubara adalah metoda geolistrik tahanan jenis. Metoda ini merupakan salah satu metoda geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan .
Selanjutnya Loke (1999) mengungkapkan bahwa survey geolistrik metoda resistivitas mapping dan sounding menghasilkan informasi perubahan variasi harga resistivitas baik arah lateral maupun arah vertikal.




















BAB III
PEMBAHASAN

3.1              Cadangan batubara di indonesia
Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara Indonesia berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul   Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara (Amandemen 1 SNI 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan terukur (Gambar 1.2). Tahapan eksplorasi ini mencerminkan tingkat keyakinan geologi dari data teknis yang digunakan pada proses estimasi sumber daya batubara.


Gambar 2.1. Klasifikasi Sumber daya dan Cadangan Batubara berdasarkan Amandemen.

Seiring dengan berjalannya waktu, SNI Klasifikasi Sumber daya dan cadangan ini mengalami  proses  tinjau  ulang  hinggakhirnyterbit  SNI  yanterbaryaitSNI Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara (SNI 5015:2011). Substansi SNI ini lebih difokuskan bagi kepentingan para pelaku pengusahaan batubara. Seperti diketahui, setiap perusahaan batubara mempunyai kewajiban untuk melaporkan kegiatannya sesuai dengan kontrak yang sudah ditanda tangani. SNI ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pengusaha dalam melaporkan kegiatannya. Mengingat SNI ini lebih ditujukan kepada pengusaha batubara, maka klasifikasi sumber daya batubaranya pun mengalami sedikit perubahan (Gambar 1.3). Pada SNI 2011 ini, kelas sumber daya hipotetik ditiadakan dengan asumsi sebagai berikut. Sumber daya hipotetik dihasilkan dari kegiatan Survei Tinjau yang biasanya dilakukan oleh Pemerintah. Tidak seharusnya perusahaan   batubara   melakukan   kegiatan   Survei   Tinjau Perusahaa batubara seharusnya menindaklanjuti kegiatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan melakukan survei yang memiliki tingkat keyakinan geologi yang lebih tinggi. Perusahaan batubara tidak diperkenankan melaporkan sumber daya hipotetik. Oleh karena itu, kelas sumber daya hipotetik dihilangkan dalam SNI 2011 ini.



Gambar 2.2. Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara berdasarkan SNI 5015:2011.

Namun,   pemerintah   mempunyai   tuga dan   kewenangan   untu melakukan kegiatan Survei Tinjau dalam upaya menginventarisasi potensi batubara di negeri ini. Sumber daya hipotetik yang dipublikasi oleh Pemerintah tidak hanya berdasarkan asumsi semata, melainkan didukung oleh berbagai data hasil dari peninjauan lapangan. Sumber daya hipotetik ini mencerminkan potensi negara kita yang belum dimanfaatkan sampai saat ini. Pemanfaatannya kemungkinan terkendala oleh berbagai hal, misalnya lokasi endapan batubara di daerah marginal ataupun lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Untuk endapan batubara yang saat ini tumpang tindih dengan kawasan konservasi, potensi ini dapat diperuntukkkan bagi Wilayah Pencadangan Negara yang kelak dapat dimanfaatkan apabila kondisinya memungkinkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kelas sumber daya hipotetik tetap dilaporkana dalam pemutakhiran


Cadangan  batu  bara  di  Indoensia  tersebar  di  darah  Sumatra,  Kalimantan,   Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan   cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara nasional menyebabkan peningkatan produksi batu bara setiap tahunnya. Menurut data ESDM, produksi batu bara Indonesia meningkat  dari 132,352,025  ton per 2004, hingga 275,164,196  ton pada tahun 2010. Sementara total ekspor meningkat dari 93,758,806 ton per 2004 hingga 208,000,000 ton per 2010. Statistik data pasokan batu bara dari Direktorat Jendral Mineral dan Batubara dijabarkan sebagai berikut













Gambar 2.3 Realisasi Produksi, Ekspor, Impor, dan Kebutuhan dalam Negeri

Fajar Widhiyanto mengatakan dengan mencermati volume produksi  batu  bara  tiap  tahun,  Indonesia  memiliki  tingkat  pertumbuhan  produksi sebesar 14,8%. Untuk pertumbuhan ekspor, berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI), pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan hingga 15,1% per tahun. Sementara pertumbuhan penjualan domestik hanya sebesar 13,8%. Ketua umum APBI Kamandanu mengungkapkan pada Konferensi Tahunan Batu bara Indonesia ke 3, yang berlangsung  di Jakarta  (31/3),  Indonesia  kini menempati  posisi  teratas  sebagai eksportir batu bara thermal, melampaui raja ekspor Australia. Kondisi ini disebabkan karena melimpahnya cadangan batu bara Indonesia. semakin hari semakin besar, diikuti dengan harga minyak yang semakin melambung, karena batu bara berperan besar menjadi energi pengganti yang effisien dan ekonomis. Menurut Singgih dari Masyarakat Batubara Indonesia yang dikutip di majalah Investor bulan  April  2011,  batu  bara  tak  sekedar  komoditas  ekonomi,  tetapi  juga  economic booster. Selain itu, menurut   data dari Ditjen Minerba, saat ini batu bara juga sudah merupakan revenue driver di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena setiap kenaikan US$1 per ton batu bara, akan memberikan  kenaikan pendapatan  negara bukan pajak (PNBP) batu bara sebesar Rp361 miliar. Sementara PNBP dari mineral dan batu bara tahun  2010  tercatat  sebesar  Rp18,7  triliun,  naik  22%  dari tahun  2009  yang  sebesar Rp15,3 triliun. Kenaikan komoditas batu bara mengikuti kenaikan harga minyak dunia, karena batubara adalah komoditas subtitusi minyak.
Permintaan batubara ke depan akan mengalami peningkatan yang cukup besar. Menurut Makmun dari Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan (www.majalahtambang.com)  permintaan batu bara dapat diukur berdasarkan kebutuhan impor batu bara dari beberapa negara maju maupun negara berkembang. Berdasarkan data yang dirilis oleh Merrill Lynch 8 Juni 2010, kebutuhan impor batu bara pada tahun 2009 mencapai 591 metrik ton (Mt), tahun 2010 diperkirakan naik menjadi 635 Mt dan pada tahun 2015 diperkirakan akan naik menjadi 803 Mt. International Energy Agency (IEA) memprediksi pada 1990 total konsumsi batubara dunia baru mencapai 3.461 juta ton, pada 2007 meningkat menjadi 5.522 juta ton atau meningkat sebesar 59,5%, atau rata-rata   3,5%   per  tahun.   Kontribusi   batu  bara  untuk   pembangkit   listrik   dunia diperkirakan   akan   meningkat   dari   41%   pada   2006   menjadi   46%   pada   2030. Meningkatnya  peran  batu  bara  sebagai  pemasok  energi  di  masa-masa  mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia.
 Kenaikan  harga dan konsumsi  batu bara menyebabkan  banyak  Investor  yang tertarik  untuk  mengelola  bisnis  pertambangan  batu  bara.  Namun  menurut  Frans  S Imung  dalam  artikelnya  yang  berjudul  “Metamorfosis   Bisnis  Indika”  di  majalah Investor   bulan   April   2011,   investasi   batu   bara   tak   hanya   diminati   di   lahan pertambangan. Di bursa saham, likuiditas saham sektor ini meningkat tajam,  terutama setelah bencana tsunami melanda Jepang. Hingga April 2011, Jepang membutuhkan 90 juta ton batu bara. Pasokan dari Indonesia sekitar 28 hingga 30 juta ton. Menurut Satrio Utomo analis pertambangan dari Universal Broker Indonesia, yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, emiten batu bara dengan volume pasar spot besar seperti Indo  Tambang  Raya  (ITMG)  dan  Harum  Energy  terimbas  sentimen  positif  karena produk-produk  mereka  memang  paling  banyak  digunakan  di  Jepang,  Ada  banyak pilihan saham batu bara di daftar emiten BEI. Pilihan saham-saham batu bara di daftar emiten BEI dijabarkan sebagai berikut:
1. Indika Energy Tbk (INDY)
2. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
3. Indo Tambangraya Megah (ITMG)
4, Bumi Resources Tbk (BUMI)
5. Darma Henwa Tbk (DEWA)
6. Adaro Energy Tbk (ADRO)
7. Brau Coal Energy Tbk (BRAU)
8. Bayan Resources Tbk (BYAN)
9. Harum Energy Tbk (HRUM)
10. Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK)
11. Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
12. Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO)
13. ATPK - ATPK Resources Tbk
14. BORN - Borneo Energy Tbk

Dari ke 14 perusahaan batu bara tersebut, menurut Frans S Imung, perusahaan batu bara dengan total aset diatas Rp10 triliun adalah Bumi Resources (BUMI), Adaro Energy (ADRO), Brau Coal (BRAU), dan Indika Energy (INDY). BUMI yang ditopang Kaltim  Prima  Coal  memiliki  keuanggulan  dari sisi keuangan  dibanding  emiten  batu bara lainnya. Pangsa pasar BUMI mencapai 38.31% pada tahun 2010, diikuti ADRO sebesar  26.94%,  dan  INDY  sebesar  18.51%.  Perkembangan  pangsa  pasar  batu  bara selama 5 tahun terakhir ketiga emiten diatas dijabarkan sebagai berikut:
Batu bara memberikan  kontribusi  terhadap  pergerakan  ekonomdi Indonesia. Menurut Mashud Toarik dari majalah Investor bulan April 2011, pertambangan  batu bara punya arti sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Bukan hanya sebagai salah satu sumber penerimaan negara dalam bentuk pajak maupun royalti, tetapi juga  sebagai  pemasok  energi  primer.  Tingkat  ketergantungan   terhadap  batubara



Gambar 2.4. Pangsa Pasar Penjualan Batu Bara Nasional
Menurut Frans S Imung, investasi batu bara yang sangat diminati pada sekor pertambangan oleh investor, minat tersebut juga cukup besar di sektor bursa saham. Di bursa  saham,  likuiditas  saham  sektor  batu  bara  meningkat  tajam,    terutama  setelah bencan tsunam meland Jepang.   Banya investo yang   tertarik   menanamkan modalny di  bursa   saha pada   sektor   batu   bara   karen peningkatan   produksi perusahaan batu bara yang cukup besar, terutama pada ekspor. Namun menurut Edbert Suryajaya dalam artikelnya berjudul How to Read the Sentiment in Stock Market di majalah Investor bulan Febuari 2011 pada umumnya sebagian besar investor mulai berinvestasi pada pasar saham yang sudah cukup tinggi. Investor mulai membeli saham karena investor–investor  yang lain telah banyak  membeli.  Menuru  Edbert,  banyak sekali investor yang akan terpancing untuk terus menanamkan dananya di pasar saham karena menganggap  sekarang saat yang tepat untuk berinvestasi.  Akibatnya,  Investor terjebak dengan membeli saham pada harga yang sudah tinggi (overvalued stock) dari harga pasar (hasil hitungan harga valuasi fundamentalnya).  Apabila investor membeli sahamsaham yang sudah mahal, Investor memiliki potensi keuntungan yang terbatas, dan potensi merugi yang lebih besar. Pada akhirnya, saham–saham yang mereka beli disaat  yang  sudah  tepat  (menurut  mereka)  mulai  bergerak  turun  dan  memberikan kerugian bagi mereka. Menghadapi kondisi demikian, apa yang mereka lakukan? Edbert menjelaskan investor   yang   menghadapi   kondisi   penurunan   harga   saha dan menyebabkan kerugian, mulai menjual saham–saham yang mereka miliki. Tekanan jual yang semakin  hebat mengakibatkan  harga saham di bursa pun melaju turun, bahkan terkadang dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kondisi penurunan yang cukup tinggi dalam  periode  tersebut  akan  menyebabkan  saham  menjadi  sangat  murah  dari  harga pasar atau undervalueKondisi  kerugian  dialami  investor  karena  kebanyakan  investor  tidak  terlalu paham perihal siklus pasar dan ekonomirasio–rasio  financial analisa fundamental, ataupun pertumbuhan perusahaan. Ketidakpahaman tersebut menyebabkan banyak dari mereka yang terjebak dengan mengikuti investor yang lain yang terlebih dahulu telah banyak membeli saham. Oleh karena itu, mereka pun seringkali tidak memahami apa yang  menyebabkan  harga  sahamsaham  yang  mereka  beli  disaat  yang  sudah  tepat (menurut mereka) mulai bergerak turun dan memberikan kerugian bagi mereka.


3.2       Cadangan Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara
            Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak. Endapan bitumen padat dapat berupa oil shale (serpih minyak) ataupun tar sand. Kenyataan di lapangan, Indonesia memiliki kedua jenis endapan bitumen padat tersebut. Oleh karena itu, untuk perhitungan neraca sumberdaya bitumen padat, data oil shale dan tar sand disajikan dalam tabel yang terpisah, walaupun pada akhirnya nilai total sumberdaya bitumen padat adalah penjumlahan dari kedua jenis ini. Pemisahan tabel tersebut bertujuan untuk memudahkan pihak yang ingin memanfaatkan komoditas tersebut.
            Sampai tahun 2012 ini, sumberdaya oil shale Indonesia adalah sebesar 11.354,94 juta ton batuan yang terdiri dari  juta ton sumberdaya hipotetik 10.185,73 juta ton dan 1.169,21 juta ton sumberdaya tereka. Kandungan minyak pada batuan bitumen padat berkisar antara 1-256 liter/ton. Penambahan sumber daya berasal dari penyelidikan Pusat Sumber Daya Geologi di 4 lokasi, yaitu daerah Waghete (Provinsi Papua), Misool (Provinsi Papua Barat), Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur), Pangkalan Balai (Provinsi Sumatera Selatan). Sedangkan satu lokasi peneyelidikan di daerah Paniai, Provinsi Papua tidak memiliki sumber daya karena tidak ekonomis.
            Sumberdaya tar sand Indonesia adalah sebesar 153,53 juta ton batuan yang terdiri dari 76,74 juta ton sumberdaya hipotetik dan 76,79 juta ton sumberdaya tereka dengan kisaran kandungan minyak 5-248 liter/ton. Hal yang menarik dari endapan tar sand ini adalah lokasinya yang terpusat di satu pulau yaitu Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
3.3       Pemanfaatan Batu Bara
Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya. Penggunaan batubara untuk PLTU pada tahun 1999 sebesar 26,9 juta ton, tahun 2004 sebesar 61,5 juta ton dan sampai tahun 2008 perkiraan pemakaian batubara mencapai 71,8 juta ton. Sedangkan produksi batubara Indonesia sampai tahun 2006 sebesar 160,4 juta ton, ekspor 120,8 juta ton dan pemakaian dalam negeri 35,95 juta ton dengan total produksi 156,75 juta ton.
Ada satu produk dari batu bara yang besar manfaatnya bagi keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia, yaitu briket batu bara. Briket batu bara merupakan bahan bakar yang telah mengalami proses pemampatan dan memiliki daya tekan tertentu, berbentuk dan memiliki ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Manfaat batu bara dalam bentuk briket adalah sebagai beikut:
1)  Cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar yang semakin menipis membuat kita harus “sedia payung sebelum hujan” dengan cara mencari sumber energi lain untuk dimanfaatkan, yakni salah satunya batu bara.
2)  Kemudahan teknologi sederhana yang memungkinkan batu bara bisa dibentuk menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.
3)  Di dalam bumi Indonesia banyak tersedia batu bara yang bisa dijadikan  briket
4)  Selain bisa menggantikan bahan bakar minyak, juga bisa menggantikan peranan kayu bakar untuk memasak. Manfaat batubara bagi kehidupan manusia:

·         bahan bakar pembangkit  listrik
·         produksi besi dan baja
·         bahan bakar pembuatan semen
·         bahan bakar cair.
·         Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon dan nylon.
·         Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu.

3.4        Potensi BatuBara Di Indonesia
Potensi batu bara di Indonesia sagatlah begitu besar dan menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat, Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.
Muhammad Hatta mengungkapkan, cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.
Berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225 juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150 juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198 juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). "Di dalam negeri, batu bara digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,"
Iwan Munajat mengatakan, tingginya produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi. Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul. Saat ini, Sumber energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006 mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya 4 persen.
Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30 persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). "Kesadaran ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat nanti," pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar. Selain batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian perundang-undangan, yang tidak sepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.
Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari 71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi target investor. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi energi dunia akan tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2010-2015 dan melambat menjadi   1,7%   pertahun   sepanjang   tahun   2015-2030.   meningkatnya   konsumsi batubara dunia tidak lepas dari meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana batubara merupakan pemasok energi terbesar setelah minyak dengan kontribusi 26%, World Energy Council memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.448 juta ton pada akhir tahun 2007 tersebar dilebih dari 50 negara. Berdasarkan kandungan kalorinya, sebesar 50,8% antrasit (kalori sangat tinggi) dan bituminus (kalori tinggi), dan 48,2% berupa sub bituminus (kalori sedang) dan lignit (kalori rendah). Dengan tingkat produksi saat ini menurut IEA, maka batubara dapat dieksploitasi setidaknya sampai minimal 133 tahun kedepan, jauh lebih lama dengan minyak dan gas bumi yang masing-masing hanya hanya dapat dieksploitasi sekitar 42 tahun dan 60 tahun kedepan.
Meskipun tersebar dilebih dari 50 negara, sekitar 76,3% cadangan batubara terbukti terkonsentrasi di 5 negara yakni Amerika Serikat (28,6%), Rusia (18,5%), China (13,5%), Australia (9%), dan India (6,7%) seperti terlihat pada gambar 2.1. Pada tahun 2007 kelima negara memberikan kontribusi sebesar 82% terhadap total produksi batubara dunia yang sebesar 5.543 juta ton.












BAB IV
PENUTUP

4.1              Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu
1.      Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara Indonesia berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul   Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara (Amandemen 1 SNI 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan terukur. Cadangan  batu  bara  di  Indoensia  tersebar  di  darah  Sumatra,  Kalimantan,   Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan   cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara nasional menyebabkan peningkatan produksi batu bara setiap tahunnya.
2.      Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak.
3.      Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya.

4.      Batubara merupakan salah satu sumber energi yang banyak dipergunakan untuk pembangkit listrik, dimana konsumsi batubara dunia mengalami kenaikan yang sangat pesat. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun.




4.2              Saran
Adapun sarannya yaitu sebagai berikut :
1.      Sumber daya alam batubara dan minyak bumi semakin berkurang, kondisi ini diperparah lagi dengan tidak dapatnya  diperbaharui; untuk itu kita harus menghemat penggunaan batu bara dan minyak bumi.
2.      Lakukan pelestarian sumber daya alam dengan tidak terlalu melakukan eksploitasi Sumber daya alam.


 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

ENDAPAN DAN CADANGAN BATUBARA
DI INDONESIA DAN SULAWESI TENGGARA


OLEH :


AGUS PANJI VERDHA
F1B2 13 003




KENDARI
2016


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Endapan dan Cadangan Batubara yang ada di Indonesia dan Sulawesi tenggara” tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun sebagai tugas dari mata kuliah Ganesa dan Eksplorasi Batubara.
Saya sebagai penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan  ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan dan penyusunan laporan ini.















BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Peningkatan harga bahan bakar minyak dunia yang cukup pesat akhir-akhir ini sangat berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk minyak tanah dan gas bumi di Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia mensubsidi bahan bakar minyak tanah sekitar 49 triliun rupiah per tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar 10 juta kilo liter per tahun. Pemerintah mengurangi beban subsidi tersebut dengan cara mengalihkan subsidi yang ada menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah diperoleh. 
Lokasi Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi, yakni  lempeng Benua Eurasia, lempeng Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu struktur geologi yang memiliki kekayaan  potensi pertambangan yang telah diakui di dunia.  Namun, potensi yang sangat tinggi ini masih belum tergali secara  optimal. Disamping itu, tingkat  investasi di sektor ini relatif rendah dan menunjukkan kecenderungan menurun akibat terhentinya  kegiatan eksplorasi di berbagai kegiatan pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Fraser Institute  dalam Annual Survey of Mining Companies (December 2002), iklim investasi sektor pertambangan di Indonesia tidak cukup menggairahkan. Banyak  kalangan menghawatirkan bahwa dengan kondisi  seperti ini maka masa depan, industri ekstraktif khususnya pertambangan di Indonesia akan segera  berakhir dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Kondisi ini patut disayangkan karena industri ini memberikan  sumbangan yang cukup besar bagi perekonomian nasional maupun daerah. Dampak ekonomi dari  keberadaan industri pertambangan antar lain penciptaan output, penciptaan tenaga kerja,  menghasilkan devisa dan memberikan kontribusi fiskal, iklim investasi pertambangan, tinjauan manfaat ekonomi kegiatan pertambangan, permasalahan yang dihadapi industri pertambangan dan rekomendasi kebijakan. Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI, Salah satu dukungan yang disarankan adalah pemantapan perencanaan dan pelaksanaan produksi secara terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu dapat memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Cadangan batu bara yang ada di Indonesia!
2.      Cadangan Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara !
3.      Bagaimanakah Pemanfaatan  Batubara?
4.      Bagaimana Potensi Batubara diindonesia?
1.3              Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Cadangan batu bara yang ada di indonesia
2.      Untuk mengetahui manfaat dari batu bara
3.      Untuk mengetahui potensi batu bara yang ada di indonesia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Batubara
            Batubara merupakan sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan tanah gambut. Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap batubara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lamanya waktu pembentukan yang disebut sebagai maturitas organic . Ada dua metode untuk menganalisa batubara, yaitu dengan cara analisa ultimate dan analisa proximate. Analisa ultimate adalah menganalisis seluruh elemen komponen batubara, padat atau gas. Sedangkan analisa proximate adalahmeganalisa hanya fixed carbon, bahan yang mudah menguap, kadar air dan persen abu.

2.1.1        Jenis-janis Batu bara
1.      Gambut / Peat         
               Golongan ini sebenarnya termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
2.      Lignite / Brown Coal          
         Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
3.      Sub-Bituminous / Bitumen Menengah
Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi.
4.   Bituminous  
         Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
5.   Anthracite   
         Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
http://indah4din4t4.files.wordpress.com/2009/12/peat_to_anthracite.jpg?w=655
Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.

2.1.2        Lingkungan Pengendapan Batubara
Diessel (1992) ada beberapa lingkungan pengendapan yang dapat menghasilkan endapan batubara, antara lain:
·                Gravelly braid plain dengan sub-lingkunganenvironments: bars, channels, overbank plains, swamps, and raised bogs.
·                Sandy braid plain dengan sub-environments: bars, channels, overbank plains, swamps, and raised bogs.
·                Alluvial valley and upper delta plain dengan sub-environments: channels, point bars, flood plains, swamps, fens, and raised bogs.
·                Lower delta plain dengan sub-environments: delta front, mouth bar, splays, channels, swamps, fans, and marshes.
·                Back barrier strand plain dengan sub-environments: off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamps, and marshes.
·                Estuary dengan sub-environments: channels, tidal flats, fens, and marshes.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi . Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee)yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh darichannel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis .
2.1.3        Bentuk-bentuk Endapan Batubara
Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah proses coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara.
Dikenal beberapa bentuk lapisan batubara yaitu:

·                Bentuk Horse Back
·                Bentuk Pinch
·                Bentuk Clay Vein
·                Bentuk Burried Hill
·                Bentuk Fault
·                Bentuk Fold

Ø    Bentuk Horse Back
Bentuk ini dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen yang menutupinya melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi. Tingkat perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin kuat gaya kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat perlengkungannya. Ke arah lateral lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya atau menjadi tipis. Kenampakan ini dapat terlihat langsung pada singkapan lapisan batubara yang tampak/dijumpai di lapangan (dalam skala kecil), atau dapat diketahui dari hasil rekontruksi beberapa lubang pemboran eksplorasi pada saat dilakukan coring secara sistematis. Akibat dari perlengkungan ini lapisan batubara terlihat terpecah-pecah akibatnya batubara menjadi kurang kompak.
Pengaruh air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan sebagian dari butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah akan masuk di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan apabila batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran (kontaminasi) dalam bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan anorganik, sehingga batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan, apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKg5FZkAEN5PrLuZ5aQpRv8Wj9QChfENPKkfGLQioqMsyfCPFpSNJoDR8ytyzhTbTr2-XB7PpmSobmZmTFxh4orsdMHgMYksB1kIsq1bUZADd3Xim1jBmOKqP9BbfeeEyeIcKd58XVxMbG/s320/11.jpg

Ø    Bentuk Pinch
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah. Pada umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara merupakan batuan yang plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan batubara secara setempat ditutupi oleh batupasir yang  secara lateral merupakan pengisian suatu alur. Sangat dimungkinkan, bentuk pinch ini bukan merupakan penampakan tunggal, melainkan merupakan penampakan yang berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch bervariasi dari beberapa meter sampai puluhan meter. Dalam proses penambangan batubara, batupasir yang mengisi pada alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut tergali, sehingga keberadaan fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap sebagai pengotor anorganik. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila batubara tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOapwcA4l1dDXqD3APABhTV9B3gEX55QsFqglcdqB7RKxpBYYLsVvVi_c8jRwM1AtRnQF4etVnlyiRstPD3InHETlvXMTMonZxvo7lYmwRISP4RILB-LUf8AdN4hinprMY5S5olqN_n8hg/s320/2.jpg

Ø    Bentuk Clay Vein
Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan batubara terdapat urat lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada satu seri lapisan batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang merupakan rekahan terbuka terisi oleh  material lempung ataupun pasir. Apabila batubaranya ditambang, bentukan Clay Vein ini dipastikan ikut tertambang dan merupakan pengotor anorganik (mineral matter) yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus dihilangkan apabila batubara tersebut akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.           
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTBsj6j4N5mjNhTyncZfqZQ7vvMKYtyMTzCnh8aHTOmJ3AuytTGrgSlUk7eeaaXisN0f_YNKq15k3ce5snqPWpjur1STfdCBkWjkXMF7hdwT8R6_PbpyBUBjeRSrp4bZkPwHlrTHK5YIrt/s320/3.jpg

Ø    Bentuk Burried Hill
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara semula terbentuk suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti “terintrusi”. Sangat dimungkinkan lapisan batubara pada bagian yang “terintrusi” menjadi menipis atau hampir hilang sama sekali. Bentukan intrusi mempunyai ukuran dari beberapa meter sampai puluhan meter. Data hasil pemboran inti pada saat eksplorasi akan banyak membantu dalam menentukan dimensi bentukan tersebut. Apabila bentukan intrusi tersebut merupakan batuan beku, pada saat proses penambangan dapat dihindarkan, tetapi apabila bentukan tersebut merupakan tubuh batupasir, dalam proses penambangan sangat dimungkinkan ikut tergali. Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan penambangan sangat diperlukan, agar fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam batubara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan dapat dikurangi sehingga keberadaan pengotor anorganik tersebut jumlahnya dapat diperkecil.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiZz2NxKD3Zo5AYbikgqr1mATQ1kUi7fwqWnDLglH2jUdW9JTMq_KWNiAzrcJPELpmOVNg73JSNcLoHj5Y7xT7dMvuU8TWhm3Jakq9Z58w9Kts0On3qY5mTeYi8EKIQ0A-IXM6OChwPLn6/s320/5.jpg

Ø    Bentuk Fault (Patahan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan mempersulit dalam melakukan perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan telah terjadi pergeseran perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam melaksanakan eksplorasi batubara di daerah yang memperlihatkan banyak gejala patahan, diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman pada hasil pemetaan geologi permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan pemboran inti, akan lebih baik bila ditunjang oleh data hasil penelitian geofisika. 
Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara dapat diikuti dengan bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila patahan-patahan secara seri didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan akan ikut hancur. Akibatnya keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak terhindarkan. Makin banyak patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi endapan batubara, makin banyak kontaminan anorganik yang terikut pada batubara pada saat ditambang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrcv31RD4HJ7nObHUM7VfBtf-XRZSEaKn9Z1ycoqgPFeD187cuWX4D-Gt6dglj_I2CmuVDzAmGSBaqhdbedD2qpx-rUvq5Enbm1joAW8yRfPmOYdSqzJqOcWUFJ2Lb1EQLuhaE50Lp0uaH/s320/6.jpg
Ø    Bentuk Fold (Perlipatan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses tektonik hingga terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih dalam bentuk sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah merupakan kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold, memberi petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut telah mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara yang diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan batubara bentuk fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan, kegiatan pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu membuat rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan batubara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGn8nmdhPZuLYil3gC7euaTNzyIxNMZbQGmYmdgi7t66_RPQM4W0RQ7BzLsrAABv9IU3OuTdo8k21SuPFqVtdGcOQfRQL8WsaJPw4SH4QQIbiuSBNq-BeWkz2PCPUX0FgrvwB_A5tWh94r/s320/7.jpg



2.1.4        Proses Pembentukan Batubara
Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Ketiga konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara yang mencakup beberpa proses, yaitu :
·               Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
·               Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
·               Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
·               Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
·               Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

2.2              Jenis Klasifikasi Batubara
2.2.1        Batubara sebagai Energi
Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari “coal”. Disebut batubara mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang kayu. Defenisi dari batubara itu sendiri menurut Muchjidin (2005).
“Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash” tersebar sebagai partikel zat mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batu meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan residu yang disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenisasikan untuk membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap”.
Dari defenisi yang lengkap ini salah satunya adalah selain batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap di PLTU, beberapa jenis batubara juga dapat diubah menjadi bahan bakar minyak melalui cara pencairan batubara atau tersebut liquifaksi (coal liquiefaction).
Pemakaian batubara sebagai energi telah dilakukan pada abad 19 yaitu untuk menggerakkan lokomotif dan mesin uap. Perkembangan selanjutnya tahun 1949 di Pengaron sebuah dusun di sepanjang Sungai Mahakam (Kaliman Timur) oleh perusahaan Belanda “Oost Borneo Ma’atsc Happij” dioperasikan tambang batubara.
2.2.2        Batubara Sebagai Bahan Bakar Minyak
Secara umum batubara Indonesia termasuk bahan bakar. Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pembuatan gas atau gasifikasi dan pencairan batubara atau liquifaksi (coal liquefaction). Dalam proses gasifikasi semua gas organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk gas terutama karbonmonoksida, karbondioksida dan hidrogen. Gas ini kemudian dapat diubah menjadi bahan-bahan kimia seperti pupuk dan metanol.
Proses liquifaksi tujuannya adalah mengubah batubara menjadi minyak. Penelitian oleh SASOL (perusahaan yang mengurusi pencairan batubara) di Afrika Selatan telah berhasil mengubah batubara menjadi minyak (Gasoline, Diesel, Jet Fuel ), gas maupun bahan kimia lainnya sehingga Afrika Selatan telah “survive” mengatasi masalah BBM 50 persen kebutuhan BBM Afrika dipasok dari Pabrik Pencairan Batubara sementara SASOL sendiri terdaftar di bursa efek Afrika Selatan dan New York. Produksi SASOL sekitar 150.000 barel/hari.
Pemerintah Indonesia pada tahun 2004 lalu telah mempunyai rencana untuk membangun pilot plant untuk program pencairan batubara di Cirebon (Jawa Barat). Maksud dari pilot plant ini adalah sebagai uji coba dan sekaligus untuk meyakinkan semua pihak bahwa program pencairan batubara ini dapat dilakukan. Teknologi yang akan digunakan adalah teknologi Improve Brown Coal Liquefaction (IBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. Sementara Jepang sendiri sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton/hari di Victoria, Australia.
Pada tahun 2002 pemerintah China telah mengambil keputusan penting, yaitu tidak akan menggantungkan diri pada impor minyak mentah. Sebagai pengganti impor minyak mentah, pemerintah China membuat program pencairan batubara. Untuk mewujudkan program ini perusahaan terbesar di China Shen Hua Group menggandeng perusahaan Amerika Headwaters Technology Innovation (HTI) untuk pencairan batubara secara langsung melalui teknologi yang dikembangkan oleh HTI.
2.3              Penyebaran Batubara
Batubara merupakan sumber energi masa depan. Batubara merupakan batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia yang mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.
Penyebaran endapan batubara di Indonesia ditinjau dari sudut geologi sangat erat hubungannya dengan penyebaran formasi sedimen yang berumur tersier yang terdapat secara luas di sebagian besar kepulauan di Indonesia. Batubara di Indonesia dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan cara terbentuknya.
Ø    batubara paleogen yaitu endapan batubara yang terbentuk pada cekungan intramontain terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.
Ø    batubara neogen yakni batubara yang terbentuk pada cekungan forelandterdapat di Tanjung Enim Sumatera Selatan.
Ø    batubara delta, yaitu endapan batubara di hampir seluruh Kalimantan Timur .
Menurut Amri (2000) formasi batubara tersebar di wilayah seluas 298 juta hektar di Indonesia, meliputi 40 cekungan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Jawa. Dari jumlah cekungan tersebut baru 13 cekungan dengan luas sekitar 74 juta ha (sekitar 25%) yang sudah diselidiki. Sementara cekungan yang telah dilakukan penyelidikan terbatas sampai pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi  maupun eksploitasi baru 3% atau seluas 2,22 juta ha. Oleh karena itu perlu ditingkatkan penyelidikan tentang keberadaan batubara tersebut. Salah satu metoda gofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan batubara adalah metoda geolistrik tahanan jenis. Metoda ini merupakan salah satu metoda geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan .
Selanjutnya Loke (1999) mengungkapkan bahwa survey geolistrik metoda resistivitas mapping dan sounding menghasilkan informasi perubahan variasi harga resistivitas baik arah lateral maupun arah vertikal.




















BAB III
PEMBAHASAN

3.1              Cadangan batubara di indonesia
Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara Indonesia berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul   Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara (Amandemen 1 SNI 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan terukur (Gambar 1.2). Tahapan eksplorasi ini mencerminkan tingkat keyakinan geologi dari data teknis yang digunakan pada proses estimasi sumber daya batubara.

Gambar 2.1. Klasifikasi Sumber daya dan Cadangan Batubara berdasarkan Amandemen.

Seiring dengan berjalannya waktu, SNI Klasifikasi Sumber daya dan cadangan ini mengalami  proses  tinjau  ulang  hinggakhirnyterbit  SNI  yanterbaryaitSNI Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara (SNI 5015:2011). Substansi SNI ini lebih difokuskan bagi kepentingan para pelaku pengusahaan batubara. Seperti diketahui, setiap perusahaan batubara mempunyai kewajiban untuk melaporkan kegiatannya sesuai dengan kontrak yang sudah ditanda tangani. SNI ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pengusaha dalam melaporkan kegiatannya. Mengingat SNI ini lebih ditujukan kepada pengusaha batubara, maka klasifikasi sumber daya batubaranya pun mengalami sedikit perubahan (Gambar 1.3). Pada SNI 2011 ini, kelas sumber daya hipotetik ditiadakan dengan asumsi sebagai berikut. Sumber daya hipotetik dihasilkan dari kegiatan Survei Tinjau yang biasanya dilakukan oleh Pemerintah. Tidak seharusnya perusahaan   batubara   melakukan   kegiatan   Survei   Tinjau Perusahaa batubara seharusnya menindaklanjuti kegiatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan melakukan survei yang memiliki tingkat keyakinan geologi yang lebih tinggi. Perusahaan batubara tidak diperkenankan melaporkan sumber daya hipotetik. Oleh karena itu, kelas sumber daya hipotetik dihilangkan dalam SNI 2011 ini.


Gambar 2.2. Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara berdasarkan SNI 5015:2011.

Namun,   pemerintah   mempunyai   tuga dan   kewenangan   untu melakukan kegiatan Survei Tinjau dalam upaya menginventarisasi potensi batubara di negeri ini. Sumber daya hipotetik yang dipublikasi oleh Pemerintah tidak hanya berdasarkan asumsi semata, melainkan didukung oleh berbagai data hasil dari peninjauan lapangan. Sumber daya hipotetik ini mencerminkan potensi negara kita yang belum dimanfaatkan sampai saat ini. Pemanfaatannya kemungkinan terkendala oleh berbagai hal, misalnya lokasi endapan batubara di daerah marginal ataupun lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Untuk endapan batubara yang saat ini tumpang tindih dengan kawasan konservasi, potensi ini dapat diperuntukkkan bagi Wilayah Pencadangan Negara yang kelak dapat dimanfaatkan apabila kondisinya memungkinkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kelas sumber daya hipotetik tetap dilaporkana dalam pemutakhiran

Cadangan  batu  bara  di  Indoensia  tersebar  di  darah  Sumatra,  Kalimantan,   Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan   cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara nasional menyebabkan peningkatan produksi batu bara setiap tahunnya. Menurut data ESDM, produksi batu bara Indonesia meningkat  dari 132,352,025  ton per 2004, hingga 275,164,196  ton pada tahun 2010. Sementara total ekspor meningkat dari 93,758,806 ton per 2004 hingga 208,000,000 ton per 2010. Statistik data pasokan batu bara dari Direktorat Jendral Mineral dan Batubara dijabarkan sebagai berikut












Gambar 2.3 Realisasi Produksi, Ekspor, Impor, dan Kebutuhan dalam Negeri

Fajar Widhiyanto mengatakan dengan mencermati volume produksi  batu  bara  tiap  tahun,  Indonesia  memiliki  tingkat  pertumbuhan  produksi sebesar 14,8%. Untuk pertumbuhan ekspor, berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI), pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan hingga 15,1% per tahun. Sementara pertumbuhan penjualan domestik hanya sebesar 13,8%. Ketua umum APBI Kamandanu mengungkapkan pada Konferensi Tahunan Batu bara Indonesia ke 3, yang berlangsung  di Jakarta  (31/3),  Indonesia  kini menempati  posisi  teratas  sebagai eksportir batu bara thermal, melampaui raja ekspor Australia. Kondisi ini disebabkan karena melimpahnya cadangan batu bara Indonesia. semakin hari semakin besar, diikuti dengan harga minyak yang semakin melambung, karena batu bara berperan besar menjadi energi pengganti yang effisien dan ekonomis. Menurut Singgih dari Masyarakat Batubara Indonesia yang dikutip di majalah Investor bulan  April  2011,  batu  bara  tak  sekedar  komoditas  ekonomi,  tetapi  juga  economic booster. Selain itu, menurut   data dari Ditjen Minerba, saat ini batu bara juga sudah merupakan revenue driver di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena setiap kenaikan US$1 per ton batu bara, akan memberikan  kenaikan pendapatan  negara bukan pajak (PNBP) batu bara sebesar Rp361 miliar. Sementara PNBP dari mineral dan batu bara tahun  2010  tercatat  sebesar  Rp18,7  triliun,  naik  22%  dari tahun  2009  yang  sebesar Rp15,3 triliun. Kenaikan komoditas batu bara mengikuti kenaikan harga minyak dunia, karena batubara adalah komoditas subtitusi minyak.
Permintaan batubara ke depan akan mengalami peningkatan yang cukup besar. Menurut Makmun dari Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan (www.majalahtambang.com)  permintaan batu bara dapat diukur berdasarkan kebutuhan impor batu bara dari beberapa negara maju maupun negara berkembang. Berdasarkan data yang dirilis oleh Merrill Lynch 8 Juni 2010, kebutuhan impor batu bara pada tahun 2009 mencapai 591 metrik ton (Mt), tahun 2010 diperkirakan naik menjadi 635 Mt dan pada tahun 2015 diperkirakan akan naik menjadi 803 Mt. International Energy Agency (IEA) memprediksi pada 1990 total konsumsi batubara dunia baru mencapai 3.461 juta ton, pada 2007 meningkat menjadi 5.522 juta ton atau meningkat sebesar 59,5%, atau rata-rata   3,5%   per  tahun.   Kontribusi   batu  bara  untuk   pembangkit   listrik   dunia diperkirakan   akan   meningkat   dari   41%   pada   2006   menjadi   46%   pada   2030. Meningkatnya  peran  batu  bara  sebagai  pemasok  energi  di  masa-masa  mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia.
 Kenaikan  harga dan konsumsi  batu bara menyebabkan  banyak  Investor  yang tertarik  untuk  mengelola  bisnis  pertambangan  batu  bara.  Namun  menurut  Frans  S Imung  dalam  artikelnya  yang  berjudul  “Metamorfosis   Bisnis  Indika”  di  majalah Investor   bulan   April   2011,   investasi   batu   bara   tak   hanya   diminati   di   lahan pertambangan. Di bursa saham, likuiditas saham sektor ini meningkat tajam,  terutama setelah bencana tsunami melanda Jepang. Hingga April 2011, Jepang membutuhkan 90 juta ton batu bara. Pasokan dari Indonesia sekitar 28 hingga 30 juta ton. Menurut Satrio Utomo analis pertambangan dari Universal Broker Indonesia, yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, emiten batu bara dengan volume pasar spot besar seperti Indo  Tambang  Raya  (ITMG)  dan  Harum  Energy  terimbas  sentimen  positif  karena produk-produk  mereka  memang  paling  banyak  digunakan  di  Jepang,  Ada  banyak pilihan saham batu bara di daftar emiten BEI. Pilihan saham-saham batu bara di daftar emiten BEI dijabarkan sebagai berikut:
1. Indika Energy Tbk (INDY)
2. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
3. Indo Tambangraya Megah (ITMG)
4, Bumi Resources Tbk (BUMI)
5. Darma Henwa Tbk (DEWA)
6. Adaro Energy Tbk (ADRO)
7. Brau Coal Energy Tbk (BRAU)
8. Bayan Resources Tbk (BYAN)
9. Harum Energy Tbk (HRUM)
10. Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK)
11. Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
12. Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO)
13. ATPK - ATPK Resources Tbk
14. BORN - Borneo Energy Tbk

Dari ke 14 perusahaan batu bara tersebut, menurut Frans S Imung, perusahaan batu bara dengan total aset diatas Rp10 triliun adalah Bumi Resources (BUMI), Adaro Energy (ADRO), Brau Coal (BRAU), dan Indika Energy (INDY). BUMI yang ditopang Kaltim  Prima  Coal  memiliki  keuanggulan  dari sisi keuangan  dibanding  emiten  batu bara lainnya. Pangsa pasar BUMI mencapai 38.31% pada tahun 2010, diikuti ADRO sebesar  26.94%,  dan  INDY  sebesar  18.51%.  Perkembangan  pangsa  pasar  batu  bara selama 5 tahun terakhir ketiga emiten diatas dijabarkan sebagai berikut:
Batu bara memberikan  kontribusi  terhadap  pergerakan  ekonomdi Indonesia. Menurut Mashud Toarik dari majalah Investor bulan April 2011, pertambangan  batu bara punya arti sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Bukan hanya sebagai salah satu sumber penerimaan negara dalam bentuk pajak maupun royalti, tetapi juga  sebagai  pemasok  energi  primer.  Tingkat  ketergantungan   terhadap  batubara



Gambar 2.4. Pangsa Pasar Penjualan Batu Bara Nasional
Menurut Frans S Imung, investasi batu bara yang sangat diminati pada sekor pertambangan oleh investor, minat tersebut juga cukup besar di sektor bursa saham. Di bursa  saham,  likuiditas  saham  sektor  batu  bara  meningkat  tajam,    terutama  setelah bencan tsunam meland Jepang.   Banya investo yang   tertarik   menanamkan modalny di  bursa   saha pada   sektor   batu   bara   karen peningkatan   produksi perusahaan batu bara yang cukup besar, terutama pada ekspor. Namun menurut Edbert Suryajaya dalam artikelnya berjudul How to Read the Sentiment in Stock Market di majalah Investor bulan Febuari 2011 pada umumnya sebagian besar investor mulai berinvestasi pada pasar saham yang sudah cukup tinggi. Investor mulai membeli saham karena investor–investor  yang lain telah banyak  membeli.  Menuru  Edbert,  banyak sekali investor yang akan terpancing untuk terus menanamkan dananya di pasar saham karena menganggap  sekarang saat yang tepat untuk berinvestasi.  Akibatnya,  Investor terjebak dengan membeli saham pada harga yang sudah tinggi (overvalued stock) dari harga pasar (hasil hitungan harga valuasi fundamentalnya).  Apabila investor membeli sahamsaham yang sudah mahal, Investor memiliki potensi keuntungan yang terbatas, dan potensi merugi yang lebih besar. Pada akhirnya, saham–saham yang mereka beli disaat  yang  sudah  tepat  (menurut  mereka)  mulai  bergerak  turun  dan  memberikan kerugian bagi mereka. Menghadapi kondisi demikian, apa yang mereka lakukan? Edbert menjelaskan investor   yang   menghadapi   kondisi   penurunan   harga   saha dan menyebabkan kerugian, mulai menjual saham–saham yang mereka miliki. Tekanan jual yang semakin  hebat mengakibatkan  harga saham di bursa pun melaju turun, bahkan terkadang dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kondisi penurunan yang cukup tinggi dalam  periode  tersebut  akan  menyebabkan  saham  menjadi  sangat  murah  dari  harga pasar atau undervalueKondisi  kerugian  dialami  investor  karena  kebanyakan  investor  tidak  terlalu paham perihal siklus pasar dan ekonomirasio–rasio  financial analisa fundamental, ataupun pertumbuhan perusahaan. Ketidakpahaman tersebut menyebabkan banyak dari mereka yang terjebak dengan mengikuti investor yang lain yang terlebih dahulu telah banyak membeli saham. Oleh karena itu, mereka pun seringkali tidak memahami apa yang  menyebabkan  harga  sahamsaham  yang  mereka  beli  disaat  yang  sudah  tepat (menurut mereka) mulai bergerak turun dan memberikan kerugian bagi mereka.

3.2       Cadangan Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara
            Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak. Endapan bitumen padat dapat berupa oil shale (serpih minyak) ataupun tar sand. Kenyataan di lapangan, Indonesia memiliki kedua jenis endapan bitumen padat tersebut. Oleh karena itu, untuk perhitungan neraca sumberdaya bitumen padat, data oil shale dan tar sand disajikan dalam tabel yang terpisah, walaupun pada akhirnya nilai total sumberdaya bitumen padat adalah penjumlahan dari kedua jenis ini. Pemisahan tabel tersebut bertujuan untuk memudahkan pihak yang ingin memanfaatkan komoditas tersebut.
            Sampai tahun 2012 ini, sumberdaya oil shale Indonesia adalah sebesar 11.354,94 juta ton batuan yang terdiri dari  juta ton sumberdaya hipotetik 10.185,73 juta ton dan 1.169,21 juta ton sumberdaya tereka. Kandungan minyak pada batuan bitumen padat berkisar antara 1-256 liter/ton. Penambahan sumber daya berasal dari penyelidikan Pusat Sumber Daya Geologi di 4 lokasi, yaitu daerah Waghete (Provinsi Papua), Misool (Provinsi Papua Barat), Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur), Pangkalan Balai (Provinsi Sumatera Selatan). Sedangkan satu lokasi peneyelidikan di daerah Paniai, Provinsi Papua tidak memiliki sumber daya karena tidak ekonomis.
            Sumberdaya tar sand Indonesia adalah sebesar 153,53 juta ton batuan yang terdiri dari 76,74 juta ton sumberdaya hipotetik dan 76,79 juta ton sumberdaya tereka dengan kisaran kandungan minyak 5-248 liter/ton. Hal yang menarik dari endapan tar sand ini adalah lokasinya yang terpusat di satu pulau yaitu Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
3.3       Pemanfaatan Batu Bara
Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya. Penggunaan batubara untuk PLTU pada tahun 1999 sebesar 26,9 juta ton, tahun 2004 sebesar 61,5 juta ton dan sampai tahun 2008 perkiraan pemakaian batubara mencapai 71,8 juta ton. Sedangkan produksi batubara Indonesia sampai tahun 2006 sebesar 160,4 juta ton, ekspor 120,8 juta ton dan pemakaian dalam negeri 35,95 juta ton dengan total produksi 156,75 juta ton.
Ada satu produk dari batu bara yang besar manfaatnya bagi keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia, yaitu briket batu bara. Briket batu bara merupakan bahan bakar yang telah mengalami proses pemampatan dan memiliki daya tekan tertentu, berbentuk dan memiliki ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Manfaat batu bara dalam bentuk briket adalah sebagai beikut:
1)  Cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar yang semakin menipis membuat kita harus “sedia payung sebelum hujan” dengan cara mencari sumber energi lain untuk dimanfaatkan, yakni salah satunya batu bara.
2)  Kemudahan teknologi sederhana yang memungkinkan batu bara bisa dibentuk menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.
3)  Di dalam bumi Indonesia banyak tersedia batu bara yang bisa dijadikan  briket
4)  Selain bisa menggantikan bahan bakar minyak, juga bisa menggantikan peranan kayu bakar untuk memasak. Manfaat batubara bagi kehidupan manusia:

·         bahan bakar pembangkit  listrik
·         produksi besi dan baja
·         bahan bakar pembuatan semen
·         bahan bakar cair.
·         Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon dan nylon.
·         Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu.

3.4        Potensi BatuBara Di Indonesia
Potensi batu bara di Indonesia sagatlah begitu besar dan menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat, Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.
Muhammad Hatta mengungkapkan, cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.
Berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225 juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150 juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198 juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). "Di dalam negeri, batu bara digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,"
Iwan Munajat mengatakan, tingginya produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi. Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul. Saat ini, Sumber energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006 mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya 4 persen.
Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30 persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). "Kesadaran ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat nanti," pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar. Selain batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian perundang-undangan, yang tidak sepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.
Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari 71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi target investor. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi energi dunia akan tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2010-2015 dan melambat menjadi   1,7%   pertahun   sepanjang   tahun   2015-2030.   meningkatnya   konsumsi batubara dunia tidak lepas dari meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana batubara merupakan pemasok energi terbesar setelah minyak dengan kontribusi 26%, World Energy Council memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.448 juta ton pada akhir tahun 2007 tersebar dilebih dari 50 negara. Berdasarkan kandungan kalorinya, sebesar 50,8% antrasit (kalori sangat tinggi) dan bituminus (kalori tinggi), dan 48,2% berupa sub bituminus (kalori sedang) dan lignit (kalori rendah). Dengan tingkat produksi saat ini menurut IEA, maka batubara dapat dieksploitasi setidaknya sampai minimal 133 tahun kedepan, jauh lebih lama dengan minyak dan gas bumi yang masing-masing hanya hanya dapat dieksploitasi sekitar 42 tahun dan 60 tahun kedepan.
Meskipun tersebar dilebih dari 50 negara, sekitar 76,3% cadangan batubara terbukti terkonsentrasi di 5 negara yakni Amerika Serikat (28,6%), Rusia (18,5%), China (13,5%), Australia (9%), dan India (6,7%) seperti terlihat pada gambar 2.1. Pada tahun 2007 kelima negara memberikan kontribusi sebesar 82% terhadap total produksi batubara dunia yang sebesar 5.543 juta ton.












BAB IV
PENUTUP

4.1              Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu
1.      Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara Indonesia berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul   Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara (Amandemen 1 SNI 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan terukur. Cadangan  batu  bara  di  Indoensia  tersebar  di  darah  Sumatra,  Kalimantan,   Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan   cadangan batubara dunia terbukti mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara nasional menyebabkan peningkatan produksi batu bara setiap tahunnya.
2.      Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak.
3.      Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya.

4.      Batubara merupakan salah satu sumber energi yang banyak dipergunakan untuk pembangkit listrik, dimana konsumsi batubara dunia mengalami kenaikan yang sangat pesat. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun.




4.2              Saran
Adapun sarannya yaitu sebagai berikut :
1.      Sumber daya alam batubara dan minyak bumi semakin berkurang, kondisi ini diperparah lagi dengan tidak dapatnya  diperbaharui; untuk itu kita harus menghemat penggunaan batu bara dan minyak bumi.
2.      Lakukan pelestarian sumber daya alam dengan tidak terlalu melakukan eksploitasi Sumber daya alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar