KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
HALU OLEO
FAKULTAS
ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN
TEKNIK PERTAMBANGAN
ENDAPAN
DAN CADANGAN BATUBARA
DI
INDONESIA DAN SULAWESI TENGGARA

OLEH :
AGUS PANJI VERDHA
F1B2 13 003
KENDARI
2016
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur
kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada
saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
yang berjudul “Endapan dan Cadangan Batubara yang ada di Indonesia dan Sulawesi
tenggara”
tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun sebagai tugas
dari mata kuliah
Ganesa dan Eksplorasi Batubara.
Saya sebagai penyusun
menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini, saya
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam pembuatan dan penyusunan laporan
ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Peningkatan
harga bahan bakar minyak dunia yang cukup pesat akhir-akhir ini sangat
berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk minyak tanah
dan gas bumi di Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia mensubsidi bahan
bakar minyak tanah sekitar 49 triliun rupiah per tahun untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat sekitar 10 juta kilo liter per tahun. Pemerintah mengurangi beban
subsidi tersebut dengan cara mengalihkan subsidi yang ada menjadi subsidi
langsung kepada masyarakat miskin. Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan
bakar minyak diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah
diperoleh.
Lokasi
Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi,
yakni lempeng Benua Eurasia, lempeng
Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu struktur
geologi yang memiliki kekayaan potensi
pertambangan yang telah diakui di dunia.
Namun, potensi yang sangat tinggi ini masih belum tergali secara optimal. Disamping itu, tingkat investasi di sektor ini relatif rendah dan
menunjukkan kecenderungan menurun akibat terhentinya kegiatan eksplorasi di berbagai kegiatan
pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Fraser Institute dalam Annual Survey of Mining Companies
(December 2002), iklim investasi sektor pertambangan di Indonesia tidak cukup
menggairahkan. Banyak kalangan
menghawatirkan bahwa dengan kondisi
seperti ini maka masa depan, industri ekstraktif khususnya pertambangan
di Indonesia akan segera berakhir dalam
waktu 5 sampai 10 tahun. Kondisi ini patut disayangkan karena industri ini
memberikan sumbangan yang cukup besar
bagi perekonomian nasional maupun daerah. Dampak ekonomi dari keberadaan industri pertambangan antar lain
penciptaan output, penciptaan tenaga kerja,
menghasilkan devisa dan memberikan kontribusi fiskal, iklim investasi
pertambangan, tinjauan manfaat ekonomi kegiatan pertambangan, permasalahan yang
dihadapi industri pertambangan dan rekomendasi kebijakan. Potensi batubara
Indonesia masih memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan
prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk
meningkatkan peranan batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI,
Salah satu dukungan yang disarankan adalah pemantapan perencanaan dan
pelaksanaan produksi secara terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu dapat
memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri maupun luar
negeri.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Cadangan
batu bara yang ada di Indonesia!
2.
Cadangan
Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara !
3.
Bagaimanakah
Pemanfaatan Batubara?
4.
Bagaimana
Potensi Batubara diindonesia?
1.3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk
mengetahui Cadangan batu bara yang ada di indonesia
2.
Untuk
mengetahui manfaat dari batu bara
3.
Untuk
mengetahui potensi batu bara yang ada di indonesia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Batubara
Batubara
merupakan sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan tanah
gambut. Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode
Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung
antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap batubara ditentukan oleh suhu dan
tekanan serta lamanya waktu pembentukan yang disebut sebagai maturitas organic . Ada dua metode untuk menganalisa batubara, yaitu dengan cara
analisa ultimate dan analisa proximate. Analisa ultimate adalah menganalisis seluruh elemen
komponen batubara, padat atau gas. Sedangkan analisa proximate adalahmeganalisa hanya fixed
carbon, bahan yang mudah menguap, kadar air dan persen abu.
2.1.1
Jenis-janis Batu bara
1. Gambut
/ Peat
Golongan ini sebenarnya
termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena
masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih
memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
2. Lignite
/ Brown Coal
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
3. Sub-Bituminous
/ Bitumen Menengah
Golongan ini
memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah
mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang
cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi.
4.
Bituminous
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
5.
Anthracite
Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
Semakin
tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen
dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan
sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar
karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin
hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar
karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.
2.1.2
Lingkungan
Pengendapan Batubara
Diessel (1992) ada beberapa
lingkungan pengendapan yang dapat menghasilkan endapan batubara, antara lain:
·
Gravelly
braid plain dengan sub-lingkunganenvironments: bars, channels, overbank plains,
swamps, and raised bogs.
·
Sandy
braid plain dengan sub-environments: bars, channels, overbank
plains, swamps, and raised bogs.
·
Alluvial
valley and upper delta plain dengan sub-environments: channels, point bars,
flood plains, swamps, fens, and raised bogs.
·
Lower
delta plain dengan sub-environments: delta front, mouth bar, splays, channels,
swamps, fans, and marshes.
·
Back
barrier strand plain dengan sub-environments: off-, near-, and backshore, tidal
inlets, lagoons, fens, swamps, and marshes.
·
Estuary
dengan sub-environments: channels, tidal flats, fens, and marshes.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan
lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di
daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi . Lingkungan delta plain merupakan
bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut
(subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah
endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp.
Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur
sedimen.
Endapan channel dicirikan
oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang
berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan
terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas.
Secara lateral endapan channel akan
berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat
tanggul alam (natural levee)yang terbentuk ketika muatan sedimen
melimpah dari channel. Endapan levee yang
dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan
membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan
oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi.
Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran
butir berkurang semakin jauh darichannel utamanya dan umumnya
memperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah
secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen
klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan
flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan
jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan
pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat
cocok untuk akumulasi gambut. Tumbuhan
pada sub-lingkungan upper delta plain akan
didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi
oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis .
2.1.3
Bentuk-bentuk Endapan Batubara
Bentuk cekungan,
proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah proses coalification akan
menentukan bentuk lapisan batubara.
Dikenal beberapa bentuk lapisan
batubara yaitu:
·
Bentuk
Horse Back
·
Bentuk
Pinch
·
Bentuk
Clay Vein
·
Bentuk
Burried Hill
·
Bentuk
Fault
·
Bentuk
Fold
Ø Bentuk Horse Back
Bentuk ini
dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen yang menutupinya
melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi. Tingkat
perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin
kuat gaya kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat
perlengkungannya. Ke arah lateral lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya
atau menjadi tipis. Kenampakan ini dapat terlihat langsung pada singkapan
lapisan batubara yang tampak/dijumpai di lapangan (dalam skala kecil), atau
dapat diketahui dari hasil rekontruksi beberapa lubang pemboran eksplorasi pada
saat dilakukan coring secara sistematis. Akibat dari perlengkungan ini lapisan
batubara terlihat terpecah-pecah akibatnya batubara menjadi kurang kompak.
Pengaruh
air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan sebagian dari
butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah akan masuk
di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan apabila
batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran (kontaminasi) dalam
bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan anorganik, sehingga
batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan,
apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Pinch
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di
bagian tengah. Pada umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara
merupakan batuan yang plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan
batubara secara setempat ditutupi oleh batupasir yang secara lateral
merupakan pengisian suatu alur. Sangat dimungkinkan, bentuk pinch ini bukan
merupakan penampakan tunggal, melainkan merupakan penampakan yang
berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch bervariasi dari beberapa meter sampai
puluhan meter. Dalam proses penambangan batubara, batupasir yang mengisi pada
alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut tergali, sehingga keberadaan
fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap sebagai pengotor anorganik.
Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila batubara tersebut akan
dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Clay
Vein
Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan
batubara terdapat urat lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada
satu seri lapisan batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang
merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun
pasir. Apabila batubaranya ditambang, bentukan Clay Vein ini
dipastikan ikut tertambang dan merupakan pengotor anorganik (mineral matter)
yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus dihilangkan apabila batubara tersebut
akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Burried
Hill
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara
semula terbentuk suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti
“terintrusi”. Sangat dimungkinkan lapisan batubara pada bagian yang
“terintrusi” menjadi menipis atau hampir hilang sama sekali. Bentukan intrusi
mempunyai ukuran dari beberapa meter sampai puluhan meter. Data hasil pemboran
inti pada saat eksplorasi akan banyak membantu dalam menentukan dimensi
bentukan tersebut. Apabila bentukan intrusi tersebut merupakan batuan beku,
pada saat proses penambangan dapat dihindarkan, tetapi apabila bentukan
tersebut merupakan tubuh batupasir, dalam proses penambangan sangat
dimungkinkan ikut tergali. Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan
penambangan sangat diperlukan, agar fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam
batubara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan dapat dikurangi sehingga
keberadaan pengotor anorganik tersebut jumlahnya dapat diperkecil.
Ø Bentuk Fault
(Patahan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit
batubara mengalami beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan
mempersulit dalam melakukan perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan
telah terjadi pergeseran perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam
melaksanakan eksplorasi batubara di daerah yang memperlihatkan banyak gejala
patahan, diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman
pada hasil pemetaan geologi permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan
pemboran inti, akan lebih baik bila ditunjang oleh data hasil penelitian
geofisika.
Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara
dapat diikuti dengan bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila
patahan-patahan secara seri didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan
akan ikut hancur. Akibatnya keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak
terhindarkan. Makin banyak patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi
endapan batubara, makin banyak kontaminan anorganik yang terikut pada batubara
pada saat ditambang.
Ø Bentuk Fold (Perlipatan)
Bentuk ini
terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses tektonik hingga
terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih dalam bentuk
sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah merupakan
kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold, memberi
petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut telah
mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara yang
diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan
batubara bentuk fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam
melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan,
kegiatan pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu
membuat rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan batubara
2.1.4
Proses
Pembentukan Batubara
Proses
sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar
pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Ketiga konsep tersebut merupakan bagian
dari proses pembentukan batubara yang mencakup beberpa proses, yaitu :
·
Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan
mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri
anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan
bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
·
Pengendapan, yakni proses dimana
material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan
gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
·
Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan
gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia
yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk
karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
·
Geotektonik, dimana lapisan gambut yang
ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan
mengalami perlipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat
menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low
grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona
batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan
darat.
·
Erosi, dimana lapisan batubara yang
telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga
permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan
batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.
2.2
Jenis Klasifikasi Batubara
2.2.1
Batubara sebagai Energi
Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari
“coal”. Disebut batubara mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang
kayu. Defenisi dari batubara itu sendiri menurut Muchjidin (2005).
“Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan
fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen
sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat
lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash” tersebar sebagai partikel zat
mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batu
meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan residu yang
disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau
dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenisasikan untuk
membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas dapat diproduksi
sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari batubara dengan
oksigen dan uap atau udara dan uap”.
Dari defenisi yang lengkap ini salah satunya adalah
selain batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap di PLTU,
beberapa jenis batubara juga dapat diubah menjadi bahan bakar minyak melalui
cara pencairan batubara atau tersebut liquifaksi (coal liquiefaction).
Pemakaian batubara sebagai energi telah dilakukan pada abad 19 yaitu untuk
menggerakkan lokomotif dan mesin uap. Perkembangan selanjutnya tahun 1949 di
Pengaron sebuah dusun di sepanjang Sungai Mahakam (Kaliman Timur) oleh
perusahaan Belanda “Oost Borneo Ma’atsc Happij” dioperasikan tambang batubara.
2.2.2
Batubara Sebagai Bahan Bakar Minyak
Secara umum batubara Indonesia termasuk bahan bakar.
Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pembuatan
gas atau gasifikasi dan pencairan batubara atau liquifaksi (coal liquefaction).
Dalam proses gasifikasi semua gas organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk
gas terutama karbonmonoksida, karbondioksida dan hidrogen. Gas ini kemudian
dapat diubah menjadi bahan-bahan kimia seperti pupuk dan metanol.
Proses liquifaksi tujuannya adalah mengubah batubara
menjadi minyak. Penelitian oleh SASOL (perusahaan yang mengurusi pencairan
batubara) di Afrika Selatan telah berhasil mengubah batubara menjadi minyak
(Gasoline, Diesel, Jet Fuel ), gas maupun bahan kimia lainnya sehingga Afrika
Selatan telah “survive” mengatasi masalah BBM 50 persen kebutuhan BBM Afrika
dipasok dari Pabrik Pencairan Batubara sementara SASOL sendiri terdaftar di
bursa efek Afrika Selatan dan New York. Produksi SASOL sekitar 150.000
barel/hari.
Pemerintah Indonesia pada tahun 2004 lalu telah
mempunyai rencana untuk membangun pilot plant untuk program pencairan batubara
di Cirebon (Jawa Barat). Maksud dari pilot plant ini adalah sebagai uji coba
dan sekaligus untuk meyakinkan semua pihak bahwa program pencairan batubara ini
dapat dilakukan. Teknologi yang akan digunakan adalah teknologi Improve Brown
Coal Liquefaction (IBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. Sementara Jepang
sendiri sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton/hari di
Victoria, Australia.
Pada tahun 2002 pemerintah China telah mengambil
keputusan penting, yaitu tidak akan menggantungkan diri pada impor minyak
mentah. Sebagai pengganti impor minyak mentah, pemerintah China membuat program
pencairan batubara. Untuk mewujudkan program ini perusahaan terbesar di China
Shen Hua Group menggandeng perusahaan Amerika Headwaters Technology Innovation
(HTI) untuk pencairan batubara secara langsung melalui teknologi yang
dikembangkan oleh HTI.
2.3
Penyebaran Batubara
Batubara merupakan sumber energi masa depan. Batubara merupakan batuan sedimen
(padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai
hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia yang
mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.
Penyebaran
endapan batubara di Indonesia ditinjau dari sudut geologi
sangat erat hubungannya dengan penyebaran formasi sedimen yang berumur tersier
yang terdapat secara luas di sebagian besar kepulauan di Indonesia. Batubara di
Indonesia dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan cara terbentuknya.
Ø
batubara paleogen yaitu endapan batubara yang
terbentuk pada cekungan intramontain terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan
Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.
Ø
batubara neogen yakni batubara yang terbentuk
pada cekungan forelandterdapat di Tanjung Enim Sumatera Selatan.
Ø
batubara delta, yaitu endapan batubara di hampir
seluruh Kalimantan Timur .
Menurut Amri (2000) formasi
batubara tersebar di wilayah seluas 298 juta hektar di Indonesia, meliputi 40
cekungan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Jawa. Dari jumlah
cekungan tersebut baru 13 cekungan dengan luas sekitar 74 juta ha (sekitar 25%)
yang sudah diselidiki. Sementara cekungan yang telah dilakukan penyelidikan
terbatas sampai pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi maupun
eksploitasi baru 3% atau seluas 2,22 juta ha. Oleh karena
itu perlu ditingkatkan penyelidikan tentang keberadaan batubara tersebut. Salah
satu metoda gofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan
batubara adalah metoda geolistrik tahanan jenis. Metoda ini merupakan salah
satu metoda geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman
lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan .
Selanjutnya Loke (1999)
mengungkapkan bahwa survey geolistrik metoda resistivitas mapping dan sounding
menghasilkan informasi perubahan variasi harga resistivitas baik arah lateral
maupun arah vertikal.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Cadangan batubara di indonesia
Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara
Indonesia
berpedoman pada
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara
(Amandemen 1 – SNI – 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya
yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan
terukur (Gambar 1.2). Tahapan
eksplorasi ini mencerminkan tingkat keyakinan geologi dari data teknis yang digunakan
pada proses estimasi
sumber daya batubara.

Gambar 2.1. Klasifikasi Sumber
daya
dan Cadangan Batubara
berdasarkan Amandemen.
Seiring dengan
berjalannya waktu, SNI Klasifikasi Sumber daya dan cadangan
ini mengalami proses
tinjau
ulang hingga akhirnya terbit
SNI yang terbaru yaitu SNI
Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara (SNI 5015:2011). Substansi
SNI
ini lebih difokuskan bagi kepentingan
para
pelaku pengusahaan
batubara. Seperti diketahui, setiap perusahaan batubara
mempunyai kewajiban untuk melaporkan kegiatannya sesuai dengan
kontrak yang sudah ditanda tangani. SNI ini diharapkan dapat
menjadi acuan bagi para pengusaha dalam melaporkan kegiatannya. Mengingat SNI ini lebih ditujukan kepada pengusaha batubara, maka
klasifikasi sumber daya batubaranya
pun
mengalami sedikit perubahan (Gambar 1.3). Pada SNI 2011 ini, kelas sumber daya
hipotetik ditiadakan dengan asumsi sebagai berikut. Sumber daya hipotetik dihasilkan
dari
kegiatan Survei Tinjau
yang biasanya dilakukan oleh Pemerintah. Tidak seharusnya perusahaan
batubara melakukan kegiatan Survei Tinjau. Perusahaan batubara
seharusnya menindaklanjuti
kegiatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan
melakukan survei yang memiliki tingkat
keyakinan geologi yang lebih tinggi. Perusahaan
batubara tidak diperkenankan melaporkan sumber daya hipotetik. Oleh karena itu, kelas sumber daya hipotetik dihilangkan dalam
SNI 2011 ini.

Gambar 2.2.
Klasifikasi
sumber daya dan cadangan
batubara
berdasarkan SNI 5015:2011.
Namun, pemerintah mempunyai
tugas dan kewenangan untuk melakukan
kegiatan
Survei Tinjau dalam upaya menginventarisasi potensi batubara di negeri ini. Sumber daya hipotetik yang dipublikasi oleh Pemerintah tidak hanya berdasarkan asumsi semata, melainkan didukung oleh berbagai data
hasil dari peninjauan lapangan. Sumber daya hipotetik ini mencerminkan potensi negara kita yang belum dimanfaatkan sampai
saat ini. Pemanfaatannya kemungkinan
terkendala oleh berbagai hal, misalnya lokasi endapan batubara di daerah marginal ataupun lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Untuk endapan batubara yang saat ini tumpang tindih dengan
kawasan konservasi, potensi
ini dapat diperuntukkkan bagi Wilayah Pencadangan Negara yang kelak dapat dimanfaatkan apabila kondisinya memungkinkan. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka kelas sumber daya hipotetik tetap dilaporkana dalam
pemutakhiran
Cadangan
batu
bara
di Indoensia tersebar di darah Sumatra, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan
Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13
miliar ton. Besarnya cadangan batu bara
nasional menyebabkan peningkatan produksi batu
bara setiap tahunnya. Menurut
data ESDM, produksi
batu bara Indonesia
meningkat dari 132,352,025
ton per 2004, hingga 275,164,196 ton
pada tahun 2010. Sementara total ekspor meningkat dari 93,758,806 ton
per 2004 hingga 208,000,000 ton per
2010. Statistik data pasokan batu bara dari Direktorat Jendral Mineral dan Batubara
dijabarkan sebagai berikut

Gambar 2.3 Realisasi Produksi, Ekspor, Impor, dan Kebutuhan dalam Negeri
Fajar Widhiyanto mengatakan dengan mencermati volume produksi batu bara tiap tahun,
Indonesia memiliki tingkat
pertumbuhan produksi
sebesar 14,8%. Untuk pertumbuhan ekspor, berdasarkan
data Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI), pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan hingga 15,1% per tahun. Sementara pertumbuhan penjualan domestik hanya
sebesar 13,8%. Ketua umum APBI Kamandanu mengungkapkan pada Konferensi Tahunan Batu bara Indonesia
ke 3, yang berlangsung di Jakarta
(31/3), Indonesia kini
menempati posisi teratas
sebagai eksportir batu bara thermal, melampaui raja ekspor Australia. Kondisi ini
disebabkan karena melimpahnya cadangan batu bara Indonesia. semakin hari
semakin besar, diikuti dengan harga minyak yang semakin melambung, karena batu
bara berperan besar menjadi energi pengganti yang effisien dan ekonomis.
Menurut Singgih dari Masyarakat Batubara Indonesia yang dikutip di majalah
Investor bulan April 2011,
batu bara tak
sekedar komoditas ekonomi,
tetapi juga economic booster. Selain itu, menurut data dari Ditjen Minerba, saat ini batu bara
juga sudah merupakan revenue driver di Indonesia. Hal tersebut disebabkan
karena setiap kenaikan US$1 per ton batu bara, akan memberikan kenaikan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) batu bara sebesar
Rp361 miliar. Sementara PNBP dari mineral dan batu bara tahun 2010
tercatat sebesar Rp18,7
triliun, naik 22%
dari tahun 2009 yang
sebesar Rp15,3 triliun. Kenaikan komoditas batu bara mengikuti kenaikan
harga minyak dunia, karena batubara adalah komoditas subtitusi minyak.
Permintaan batubara
ke depan akan mengalami peningkatan yang cukup besar. Menurut Makmun dari
Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan
(www.majalahtambang.com) permintaan batu
bara dapat diukur berdasarkan kebutuhan impor batu bara dari beberapa negara
maju maupun negara berkembang. Berdasarkan data yang dirilis oleh Merrill Lynch
8 Juni 2010, kebutuhan impor batu bara pada tahun 2009 mencapai 591 metrik ton
(Mt), tahun 2010 diperkirakan naik menjadi 635 Mt dan pada tahun 2015
diperkirakan akan naik menjadi 803 Mt. International Energy Agency (IEA)
memprediksi pada 1990 total konsumsi batubara dunia baru mencapai 3.461 juta
ton, pada 2007 meningkat menjadi 5.522 juta ton atau meningkat sebesar 59,5%,
atau rata-rata 3,5% per
tahun. Kontribusi batu
bara untuk pembangkit
listrik dunia diperkirakan akan
meningkat dari 41%
pada 2006 menjadi
46% pada 2030. Meningkatnya peran
batu bara sebagai
pemasok energi di
masa-masa mendatang membuat
industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak
terkecuali di Indonesia.
Kenaikan
harga dan konsumsi batu bara
menyebabkan banyak Investor
yang tertarik untuk mengelola
bisnis pertambangan batu
bara. Namun menurut
Frans S Imung dalam
artikelnya yang berjudul
“Metamorfosis Bisnis Indika”
di majalah Investor bulan
April 2011, investasi
batu bara tak
hanya diminati di
lahan pertambangan. Di bursa saham, likuiditas saham sektor ini
meningkat tajam, terutama setelah
bencana tsunami melanda Jepang. Hingga April 2011, Jepang membutuhkan 90 juta
ton batu bara. Pasokan dari Indonesia sekitar 28 hingga 30 juta ton. Menurut
Satrio Utomo analis pertambangan dari Universal Broker Indonesia, yang dikutip
di majalah Investor bulan April 2011, emiten batu bara dengan volume pasar spot
besar seperti Indo Tambang Raya
(ITMG) dan Harum
Energy terimbas sentimen
positif karena produk-produk mereka
memang paling banyak
digunakan di Jepang,
Ada banyak pilihan saham batu
bara di daftar emiten BEI. Pilihan saham-saham batu bara di daftar emiten BEI
dijabarkan sebagai berikut:
1. Indika Energy Tbk (INDY)
2. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
3. Indo Tambangraya Megah (ITMG)
4, Bumi Resources Tbk (BUMI)
5. Darma Henwa Tbk (DEWA)
6. Adaro Energy Tbk (ADRO)
7. Brau Coal Energy Tbk (BRAU)
8. Bayan Resources Tbk (BYAN)
9. Harum Energy Tbk (HRUM)
10. Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK)
11. Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
12. Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO)
13. ATPK - ATPK Resources Tbk
14. BORN - Borneo Energy Tbk
Dari ke 14
perusahaan batu bara tersebut, menurut Frans S Imung, perusahaan batu bara
dengan total aset diatas Rp10 triliun adalah Bumi Resources (BUMI), Adaro
Energy (ADRO), Brau Coal (BRAU), dan Indika Energy (INDY). BUMI yang ditopang
Kaltim Prima Coal
memiliki keuanggulan dari sisi keuangan dibanding
emiten batu bara lainnya. Pangsa
pasar BUMI mencapai 38.31% pada tahun 2010, diikuti ADRO sebesar 26.94%,
dan INDY sebesar
18.51%. Perkembangan pangsa
pasar batu bara selama 5 tahun terakhir ketiga emiten
diatas dijabarkan sebagai berikut:
Batu bara memberikan kontribusi
terhadap
pergerakan ekonomi di Indonesia.
Menurut Mashud Toarik dari majalah Investor bulan April 2011, pertambangan
batu bara punya arti
sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Bukan hanya sebagai salah satu
sumber penerimaan negara dalam bentuk pajak maupun royalti, tetapi juga sebagai pemasok
energi primer.
Tingkat ketergantungan
terhadap
batubara
Tingkat ketergantungan
terhadap
batubara
Gambar 2.4. Pangsa Pasar Penjualan Batu Bara Nasional
Menurut Frans S Imung, investasi batu bara yang sangat diminati pada sekor pertambangan oleh investor, minat tersebut juga cukup besar di
sektor bursa saham. Di bursa saham, likuiditas
saham sektor batu
bara meningkat
tajam, terutama setelah bencana tsunami melanda Jepang. Banyak investor yang
tertarik menanamkan modalnya di bursa saham pada
sektor
batu
bara
karena peningkatan
produksi
perusahaan batu bara yang cukup besar, terutama pada ekspor. Namun menurut Edbert
Suryajaya dalam artikelnya berjudul
“How to Read the Sentiment in Stock Market” di majalah Investor bulan Febuari 2011 pada
umumnya sebagian besar investor mulai berinvestasi pada pasar saham yang sudah cukup tinggi. Investor mulai membeli saham karena investor–investor yang lain telah banyak
membeli.
Menuru
Edbert,
banyak sekali investor yang akan terpancing untuk terus menanamkan dananya di pasar
saham karena menganggap
sekarang saat yang tepat untuk berinvestasi. Akibatnya, Investor terjebak dengan membeli saham pada
harga yang sudah tinggi (overvalued stock) dari harga pasar (hasil hitungan harga valuasi fundamentalnya). Apabila investor membeli saham–saham yang sudah mahal, Investor memiliki potensi keuntungan yang terbatas, dan potensi merugi yang lebih besar. Pada akhirnya, saham–saham yang mereka beli disaat yang sudah tepat (menurut
mereka)
mulai
bergerak
turun
dan memberikan kerugian bagi mereka. Menghadapi kondisi demikian, apa
yang mereka lakukan? Edbert menjelaskan, investor yang
menghadapi
kondisi penurunan
harga saham dan menyebabkan kerugian,
mulai menjual saham–saham yang
mereka miliki. Tekanan jual yang semakin
hebat mengakibatkan
harga saham di bursa pun melaju turun,
bahkan
terkadang dengan kecepatan yang
cukup tinggi. Kondisi penurunan yang cukup tinggi dalam periode tersebut akan menyebabkan
saham menjadi sangat murah dari harga
pasar atau undervalue.
Kondisi kerugian
dialami investor karena
kebanyakan investor tidak terlalu paham perihal siklus pasar dan ekonomi, rasio–rasio financial, analisa fundamental,
ataupun pertumbuhan perusahaan. Ketidakpahaman tersebut menyebabkan banyak
dari mereka yang terjebak dengan mengikuti investor yang lain yang terlebih dahulu telah banyak membeli saham. Oleh karena itu, mereka pun seringkali tidak memahami apa yang
menyebabkan harga
saham–saham
yang
mereka beli
disaat yang sudah
tepat (menurut
mereka) mulai bergerak turun dan memberikan kerugian bagi mereka.
3.2 Cadangan Batubara yang ada di
Sulawesi Tenggara
Cadangan
Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara
definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material
organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan
menghasilkan minyak. Endapan bitumen padat dapat berupa oil shale (serpih
minyak) ataupun tar sand. Kenyataan di lapangan, Indonesia memiliki kedua jenis
endapan bitumen padat tersebut. Oleh karena itu, untuk perhitungan neraca
sumberdaya bitumen padat, data oil shale dan tar sand disajikan dalam tabel
yang terpisah, walaupun pada akhirnya nilai total sumberdaya bitumen padat
adalah penjumlahan dari kedua jenis ini. Pemisahan tabel tersebut bertujuan
untuk memudahkan pihak yang ingin memanfaatkan komoditas tersebut.
Sampai
tahun 2012 ini, sumberdaya oil shale Indonesia adalah sebesar 11.354,94 juta
ton batuan yang terdiri dari juta ton
sumberdaya hipotetik 10.185,73 juta ton dan 1.169,21 juta ton sumberdaya
tereka. Kandungan minyak pada batuan bitumen padat berkisar antara 1-256
liter/ton. Penambahan sumber daya berasal dari penyelidikan Pusat Sumber Daya
Geologi di 4 lokasi, yaitu daerah Waghete (Provinsi Papua), Misool (Provinsi
Papua Barat), Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur), Pangkalan Balai (Provinsi
Sumatera Selatan). Sedangkan satu lokasi peneyelidikan di daerah Paniai,
Provinsi Papua tidak memiliki sumber daya karena tidak ekonomis.
Sumberdaya tar sand Indonesia adalah sebesar
153,53 juta ton batuan yang terdiri dari 76,74 juta ton sumberdaya hipotetik
dan 76,79 juta ton sumberdaya tereka dengan kisaran kandungan minyak 5-248
liter/ton. Hal yang menarik dari endapan tar sand ini adalah lokasinya yang
terpusat di satu pulau yaitu Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
3.3 Pemanfaatan
Batu Bara
Penggunaan batubara di dalam negeri
adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit
tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada
industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan
industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan
untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia
(Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar
sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul
oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian
industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri
kecil lainya. Penggunaan batubara untuk PLTU pada tahun 1999 sebesar 26,9 juta
ton, tahun 2004 sebesar 61,5 juta ton dan sampai tahun 2008 perkiraan pemakaian
batubara mencapai 71,8 juta ton. Sedangkan produksi batubara Indonesia sampai
tahun 2006 sebesar 160,4 juta ton, ekspor 120,8 juta ton dan pemakaian dalam
negeri 35,95 juta ton dengan total produksi 156,75 juta ton.
Ada satu produk dari batu bara yang
besar manfaatnya bagi keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia, yaitu
briket batu bara. Briket batu bara merupakan bahan bakar yang telah mengalami
proses pemampatan dan memiliki daya tekan tertentu, berbentuk dan memiliki
ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah digunakan untuk memenuhi
kebutuhan energi masyarakat.
Manfaat batu bara dalam bentuk briket
adalah sebagai beikut:
1)
Cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar yang semakin menipis membuat
kita harus “sedia payung sebelum hujan” dengan cara mencari sumber energi lain untuk
dimanfaatkan, yakni salah satunya batu bara.
2)
Kemudahan teknologi sederhana yang memungkinkan batu bara bisa dibentuk
menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.
3)
Di dalam bumi Indonesia banyak tersedia batu bara yang bisa dijadikan briket
4)
Selain bisa menggantikan bahan bakar minyak, juga bisa menggantikan
peranan kayu bakar untuk memasak. Manfaat batubara bagi kehidupan manusia:
·
bahan bakar pembangkit
listrik
·
produksi besi dan baja
·
bahan bakar pembuatan semen
·
bahan bakar cair.
·
Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat
pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa
produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu
bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak
kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku
kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman.
Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan
batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti
rayon dan nylon.
·
Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan
produk-produk tertentu.
3.4 Potensi BatuBara Di Indonesia
Potensi batu bara di Indonesia sagatlah begitu besar dan
menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan
pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.
Hal itu terungkap dalam Seminar
Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di
Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua
Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat,
Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT
Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.
Muhammad Hatta mengungkapkan,
cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9
miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.
Berdasarkan data dari Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225
juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150
juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198
juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). "Di dalam negeri, batu bara
digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,"
Iwan Munajat mengatakan, tingginya
produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena
masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi.
Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya
teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul. Saat ini, Sumber
energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan
menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006
mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya
4 persen.
Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi
perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30
persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). "Kesadaran
ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat
nanti," pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik
perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar. Selain
batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar
dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian
perundang-undangan, yang tidak sepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.
Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari
71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari
segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi
target investor. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461
ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5%
atau 3,5% per tahun. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi
energi dunia akan tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2010-2015 dan
melambat menjadi 1,7% pertahun
sepanjang tahun 2015-2030.
meningkatnya konsumsi batubara
dunia tidak lepas dari meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana
batubara merupakan pemasok energi terbesar setelah minyak dengan kontribusi
26%, World Energy Council memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.448 juta ton pada akhir tahun 2007 tersebar dilebih dari 50
negara. Berdasarkan kandungan kalorinya, sebesar 50,8% antrasit (kalori sangat
tinggi) dan bituminus (kalori tinggi), dan 48,2% berupa sub bituminus (kalori
sedang) dan lignit (kalori rendah). Dengan tingkat produksi saat ini menurut
IEA, maka batubara dapat dieksploitasi setidaknya sampai minimal 133 tahun
kedepan, jauh lebih lama dengan minyak dan gas bumi yang masing-masing hanya
hanya dapat dieksploitasi sekitar 42 tahun dan 60 tahun kedepan.
Meskipun tersebar dilebih dari 50 negara, sekitar 76,3%
cadangan batubara terbukti terkonsentrasi di 5 negara yakni Amerika Serikat
(28,6%), Rusia (18,5%), China (13,5%), Australia (9%), dan India (6,7%) seperti
terlihat pada gambar 2.1. Pada tahun 2007 kelima negara memberikan kontribusi
sebesar 82% terhadap total produksi batubara dunia yang sebesar 5.543 juta ton.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari makalah ini yaitu
1. Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara
Indonesia
berpedoman pada
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara
(Amandemen 1 – SNI – 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya
yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan
terukur.
Cadangan batu
bara
di Indoensia tersebar di darah Sumatra, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan
Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara
nasional menyebabkan peningkatan produksi batu
bara setiap tahunnya.
2. Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih
dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan
sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan
suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak.
3.
Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber
energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan
industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti
pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan
timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke
berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan,
Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya
adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen
yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia,
kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya.
4.
Batubara merupakan salah satu sumber energi yang banyak
dipergunakan untuk pembangkit listrik, dimana konsumsi batubara dunia mengalami
kenaikan yang sangat pesat. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia
baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat
sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun.
4.2
Saran
Adapun sarannya yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya
alam batubara dan minyak bumi semakin berkurang, kondisi ini diperparah lagi
dengan tidak dapatnya diperbaharui; untuk itu kita harus menghemat
penggunaan batu bara dan minyak bumi.
2. Lakukan
pelestarian sumber daya alam dengan tidak terlalu melakukan eksploitasi Sumber
daya alam.
UNIVERSITAS
HALU OLEO
FAKULTAS
ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN
TEKNIK PERTAMBANGAN
ENDAPAN
DAN CADANGAN BATUBARA
DI
INDONESIA DAN SULAWESI TENGGARA

OLEH :
AGUS PANJI VERDHA
F1B2 13 003
KENDARI
2016
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur
kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada
saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
yang berjudul “Endapan dan Cadangan Batubara yang ada di Indonesia dan Sulawesi
tenggara”
tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun sebagai tugas
dari mata kuliah
Ganesa dan Eksplorasi Batubara.
Saya sebagai penyusun
menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini, saya
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam pembuatan dan penyusunan laporan
ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Peningkatan
harga bahan bakar minyak dunia yang cukup pesat akhir-akhir ini sangat
berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk minyak tanah
dan gas bumi di Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia mensubsidi bahan
bakar minyak tanah sekitar 49 triliun rupiah per tahun untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat sekitar 10 juta kilo liter per tahun. Pemerintah mengurangi beban
subsidi tersebut dengan cara mengalihkan subsidi yang ada menjadi subsidi
langsung kepada masyarakat miskin. Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan
bakar minyak diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah
diperoleh.
Lokasi
Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi,
yakni lempeng Benua Eurasia, lempeng
Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu struktur
geologi yang memiliki kekayaan potensi
pertambangan yang telah diakui di dunia.
Namun, potensi yang sangat tinggi ini masih belum tergali secara optimal. Disamping itu, tingkat investasi di sektor ini relatif rendah dan
menunjukkan kecenderungan menurun akibat terhentinya kegiatan eksplorasi di berbagai kegiatan
pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Fraser Institute dalam Annual Survey of Mining Companies
(December 2002), iklim investasi sektor pertambangan di Indonesia tidak cukup
menggairahkan. Banyak kalangan
menghawatirkan bahwa dengan kondisi
seperti ini maka masa depan, industri ekstraktif khususnya pertambangan
di Indonesia akan segera berakhir dalam
waktu 5 sampai 10 tahun. Kondisi ini patut disayangkan karena industri ini
memberikan sumbangan yang cukup besar
bagi perekonomian nasional maupun daerah. Dampak ekonomi dari keberadaan industri pertambangan antar lain
penciptaan output, penciptaan tenaga kerja,
menghasilkan devisa dan memberikan kontribusi fiskal, iklim investasi
pertambangan, tinjauan manfaat ekonomi kegiatan pertambangan, permasalahan yang
dihadapi industri pertambangan dan rekomendasi kebijakan. Potensi batubara
Indonesia masih memungkinkan untuk lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan
prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk
meningkatkan peranan batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI,
Salah satu dukungan yang disarankan adalah pemantapan perencanaan dan
pelaksanaan produksi secara terpadu, sehingga kapasitas produksi selalu dapat
memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri maupun luar
negeri.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Cadangan
batu bara yang ada di Indonesia!
2.
Cadangan
Batubara yang ada di Sulawesi Tenggara !
3.
Bagaimanakah
Pemanfaatan Batubara?
4.
Bagaimana
Potensi Batubara diindonesia?
1.3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk
mengetahui Cadangan batu bara yang ada di indonesia
2.
Untuk
mengetahui manfaat dari batu bara
3.
Untuk
mengetahui potensi batu bara yang ada di indonesia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Batubara
Batubara
merupakan sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan tanah
gambut. Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode
Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung
antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap batubara ditentukan oleh suhu dan
tekanan serta lamanya waktu pembentukan yang disebut sebagai maturitas organic . Ada dua metode untuk menganalisa batubara, yaitu dengan cara
analisa ultimate dan analisa proximate. Analisa ultimate adalah menganalisis seluruh elemen
komponen batubara, padat atau gas. Sedangkan analisa proximate adalahmeganalisa hanya fixed
carbon, bahan yang mudah menguap, kadar air dan persen abu.
2.1.1
Jenis-janis Batu bara
1. Gambut
/ Peat
Golongan ini sebenarnya
termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena
masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih
memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
2. Lignite
/ Brown Coal
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
3. Sub-Bituminous
/ Bitumen Menengah
Golongan ini
memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah
mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang
cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi.
4.
Bituminous
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
5.
Anthracite
Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi.
Semakin
tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen
dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan
sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar
karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu
batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin
hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar
karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.
2.1.2
Lingkungan
Pengendapan Batubara
Diessel (1992) ada beberapa
lingkungan pengendapan yang dapat menghasilkan endapan batubara, antara lain:
·
Gravelly
braid plain dengan sub-lingkunganenvironments: bars, channels, overbank plains,
swamps, and raised bogs.
·
Sandy
braid plain dengan sub-environments: bars, channels, overbank
plains, swamps, and raised bogs.
·
Alluvial
valley and upper delta plain dengan sub-environments: channels, point bars,
flood plains, swamps, fens, and raised bogs.
·
Lower
delta plain dengan sub-environments: delta front, mouth bar, splays, channels,
swamps, fans, and marshes.
·
Back
barrier strand plain dengan sub-environments: off-, near-, and backshore, tidal
inlets, lagoons, fens, swamps, and marshes.
·
Estuary
dengan sub-environments: channels, tidal flats, fens, and marshes.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan
lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di
daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi . Lingkungan delta plain merupakan
bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut
(subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah
endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp.
Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur
sedimen.
Endapan channel dicirikan
oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang
berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan
terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas.
Secara lateral endapan channel akan
berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat
tanggul alam (natural levee)yang terbentuk ketika muatan sedimen
melimpah dari channel. Endapan levee yang
dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan
membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan
oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi.
Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran
butir berkurang semakin jauh darichannel utamanya dan umumnya
memperlihatkan pola mengasar ke atas. Endapan crevase play berubah
secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen
klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan
flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan
jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan
pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat
cocok untuk akumulasi gambut. Tumbuhan
pada sub-lingkungan upper delta plain akan
didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi
oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis .
2.1.3
Bentuk-bentuk Endapan Batubara
Bentuk cekungan,
proses sedimentasi, proses geologi selama dan sesudah proses coalification akan
menentukan bentuk lapisan batubara.
Dikenal beberapa bentuk lapisan
batubara yaitu:
·
Bentuk
Horse Back
·
Bentuk
Pinch
·
Bentuk
Clay Vein
·
Bentuk
Burried Hill
·
Bentuk
Fault
·
Bentuk
Fold
Ø Bentuk Horse Back
Bentuk ini
dicirikan oleh lapisan batubara dan lapisan batuan sedimen yang menutupinya
melengkung ke arah atas, akibat adanya gaya kompresi. Tingkat
perlengkungan sangat ditentukan oleh besaran gaya kompresi. Makin
kuat gaya kompresi yang berpengaruh, makin besar tingkat
perlengkungannya. Ke arah lateral lapisan batubara mungkin akan sama tebalnya
atau menjadi tipis. Kenampakan ini dapat terlihat langsung pada singkapan
lapisan batubara yang tampak/dijumpai di lapangan (dalam skala kecil), atau
dapat diketahui dari hasil rekontruksi beberapa lubang pemboran eksplorasi pada
saat dilakukan coring secara sistematis. Akibat dari perlengkungan ini lapisan
batubara terlihat terpecah-pecah akibatnya batubara menjadi kurang kompak.
Pengaruh
air hujan, yang selanjutnya menjadi air tanah, akan mengakibatkan sebagian dari
butiran batuan sedimen yang terletak di atasnya, bersama air tanah akan masuk
di antara rekahan lapisan batubara. Kejadian ini akan megakibatkan apabila
batubara tersebut ditambang, batubara mengalami pengotoran (kontaminasi) dalam
bentuk butiran-butiran batuan sedimen sebagai kontaminan anorganik, sehingga
batubara menjadi tidak bersih. Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan,
apabila batubara tersebut akan dipergunakan sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Pinch
Bentuk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di
bagian tengah. Pada umumnya bagian bawah (dasar) dari lapisan batubara
merupakan batuan yang plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan
batubara secara setempat ditutupi oleh batupasir yang secara lateral
merupakan pengisian suatu alur. Sangat dimungkinkan, bentuk pinch ini bukan
merupakan penampakan tunggal, melainkan merupakan penampakan yang
berulang-ulang. Ukuran bentuk pinch bervariasi dari beberapa meter sampai
puluhan meter. Dalam proses penambangan batubara, batupasir yang mengisi pada
alur-alur tersebut tidak terhindarkan ikut tergali, sehingga keberadaan
fragmen-fragmen batupasir tersebut juga dianggap sebagai pengotor anorganik.
Keberadaan pengotor ini tidak diinginkan apabila batubara tersebut akan
dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Clay
Vein
Bentuk ini terjadi apabila di antara dua bagian lapisan
batubara terdapat urat lempung ataupun pasir. Bentuk ini terjadi apabila pada
satu seri lapisan batubara mengalami patahan, kemudian pada bidang patahan yang
merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun
pasir. Apabila batubaranya ditambang, bentukan Clay Vein ini
dipastikan ikut tertambang dan merupakan pengotor anorganik (mineral matter)
yang tidak diharapkan. Pengotor ini harus dihilangkan apabila batubara tersebut
akan dikonsumsi sebagai bahan bakar.
Ø Bentuk Burried
Hill
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara
semula terbentuk suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti
“terintrusi”. Sangat dimungkinkan lapisan batubara pada bagian yang
“terintrusi” menjadi menipis atau hampir hilang sama sekali. Bentukan intrusi
mempunyai ukuran dari beberapa meter sampai puluhan meter. Data hasil pemboran
inti pada saat eksplorasi akan banyak membantu dalam menentukan dimensi
bentukan tersebut. Apabila bentukan intrusi tersebut merupakan batuan beku,
pada saat proses penambangan dapat dihindarkan, tetapi apabila bentukan
tersebut merupakan tubuh batupasir, dalam proses penambangan sangat
dimungkinkan ikut tergali. Oleh sebab itu ketelitian dalam perencanaan
penambangan sangat diperlukan, agar fragmen-fragmen intrusi tersebut dalam
batubara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan dapat dikurangi sehingga
keberadaan pengotor anorganik tersebut jumlahnya dapat diperkecil.
Ø Bentuk Fault
(Patahan)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit
batubara mengalami beberapa seri patahan. Apabila hal ini terjadi, akan
mempersulit dalam melakukan perhitungan cadangan batubara. Hal ini disebabkan
telah terjadi pergeseran perlapisan batubara ke arah vertikal. Dalam
melaksanakan eksplorasi batubara di daerah yang memperlihatkan banyak gejala
patahan, diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, tidak dibenarkan hanya berpedoman
pada hasil pemetaan geologi permukaan saja. Oleh sebab itu, di samping kegiatan
pemboran inti, akan lebih baik bila ditunjang oleh data hasil penelitian
geofisika.
Dengan demikian rekonstruksi perjalanan lapisan batubara
dapat diikuti dengan bantuan hasil interpretasi dari data geofisika. Apabila
patahan-patahan secara seri didapatkan, keadaan batubara pada daerah patahan
akan ikut hancur. Akibatnya keberadaan kontaminan anorganik pada batubara tidak
terhindarkan. Makin banyak patahan yang terjadi pada satu seri sedimentasi
endapan batubara, makin banyak kontaminan anorganik yang terikut pada batubara
pada saat ditambang.
Ø Bentuk Fold (Perlipatan)
Bentuk ini
terjadi apabila di daerah endapan batubara, mengalami proses tektonik hingga
terbentuk perlipatan. Perlipatan tersebut dimungkinkan masih dalam bentuk
sederhana, misalnya bentuk antiklin atau bentuk sinklin, atau sudah merupakan
kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Lapisan batubara bentuk fold, memberi
petunjuk awal pada kita bahwa batubara yang terdapat di daerah tersebut telah
mengalami proses coalification relatif lebih sempurna, akibatnya batubara yang
diperoleh kualitasnya relatif lebih baik. Sering sekali terjadi, lapisan
batubara bentuk fold berasosiasi dengan lapisan batubara berbentuk fault. Dalam
melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak perlipatan dan patahan,
kegiatan pemboran inti perlu mendapat prioritas utama agar ahli geologi mampu
membuat rekonstruksi struktur dalam usaha menghitung jumlah cadangan batubara
2.1.4
Proses
Pembentukan Batubara
Proses
sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar
pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Ketiga konsep tersebut merupakan bagian
dari proses pembentukan batubara yang mencakup beberpa proses, yaitu :
·
Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan
mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri
anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan
bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
·
Pengendapan, yakni proses dimana
material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan
gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
·
Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan
gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia
yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk
karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
·
Geotektonik, dimana lapisan gambut yang
ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan
mengalami perlipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat
menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low
grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona
batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan
darat.
·
Erosi, dimana lapisan batubara yang
telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga
permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan
batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.
2.2
Jenis Klasifikasi Batubara
2.2.1
Batubara sebagai Energi
Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari
“coal”. Disebut batubara mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang
kayu. Defenisi dari batubara itu sendiri menurut Muchjidin (2005).
“Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan
fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen
sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat
lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash” tersebar sebagai partikel zat
mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batu
meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan residu yang
disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau
dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenisasikan untuk
membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas dapat diproduksi
sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari batubara dengan
oksigen dan uap atau udara dan uap”.
Dari defenisi yang lengkap ini salah satunya adalah
selain batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit uap di PLTU,
beberapa jenis batubara juga dapat diubah menjadi bahan bakar minyak melalui
cara pencairan batubara atau tersebut liquifaksi (coal liquiefaction).
Pemakaian batubara sebagai energi telah dilakukan pada abad 19 yaitu untuk
menggerakkan lokomotif dan mesin uap. Perkembangan selanjutnya tahun 1949 di
Pengaron sebuah dusun di sepanjang Sungai Mahakam (Kaliman Timur) oleh
perusahaan Belanda “Oost Borneo Ma’atsc Happij” dioperasikan tambang batubara.
2.2.2
Batubara Sebagai Bahan Bakar Minyak
Secara umum batubara Indonesia termasuk bahan bakar.
Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pembuatan
gas atau gasifikasi dan pencairan batubara atau liquifaksi (coal liquefaction).
Dalam proses gasifikasi semua gas organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk
gas terutama karbonmonoksida, karbondioksida dan hidrogen. Gas ini kemudian
dapat diubah menjadi bahan-bahan kimia seperti pupuk dan metanol.
Proses liquifaksi tujuannya adalah mengubah batubara
menjadi minyak. Penelitian oleh SASOL (perusahaan yang mengurusi pencairan
batubara) di Afrika Selatan telah berhasil mengubah batubara menjadi minyak
(Gasoline, Diesel, Jet Fuel ), gas maupun bahan kimia lainnya sehingga Afrika
Selatan telah “survive” mengatasi masalah BBM 50 persen kebutuhan BBM Afrika
dipasok dari Pabrik Pencairan Batubara sementara SASOL sendiri terdaftar di
bursa efek Afrika Selatan dan New York. Produksi SASOL sekitar 150.000
barel/hari.
Pemerintah Indonesia pada tahun 2004 lalu telah
mempunyai rencana untuk membangun pilot plant untuk program pencairan batubara
di Cirebon (Jawa Barat). Maksud dari pilot plant ini adalah sebagai uji coba
dan sekaligus untuk meyakinkan semua pihak bahwa program pencairan batubara ini
dapat dilakukan. Teknologi yang akan digunakan adalah teknologi Improve Brown
Coal Liquefaction (IBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. Sementara Jepang
sendiri sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton/hari di
Victoria, Australia.
Pada tahun 2002 pemerintah China telah mengambil
keputusan penting, yaitu tidak akan menggantungkan diri pada impor minyak
mentah. Sebagai pengganti impor minyak mentah, pemerintah China membuat program
pencairan batubara. Untuk mewujudkan program ini perusahaan terbesar di China
Shen Hua Group menggandeng perusahaan Amerika Headwaters Technology Innovation
(HTI) untuk pencairan batubara secara langsung melalui teknologi yang
dikembangkan oleh HTI.
2.3
Penyebaran Batubara
Batubara merupakan sumber energi masa depan. Batubara merupakan batuan sedimen
(padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai
hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia yang
mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.
Penyebaran
endapan batubara di Indonesia ditinjau dari sudut geologi
sangat erat hubungannya dengan penyebaran formasi sedimen yang berumur tersier
yang terdapat secara luas di sebagian besar kepulauan di Indonesia. Batubara di
Indonesia dapat dibedakan tiga jenis berdasarkan cara terbentuknya.
Ø
batubara paleogen yaitu endapan batubara yang
terbentuk pada cekungan intramontain terdapat di Ombilin, Bayah, Kalimantan
Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.
Ø
batubara neogen yakni batubara yang terbentuk
pada cekungan forelandterdapat di Tanjung Enim Sumatera Selatan.
Ø
batubara delta, yaitu endapan batubara di hampir
seluruh Kalimantan Timur .
Menurut Amri (2000) formasi
batubara tersebar di wilayah seluas 298 juta hektar di Indonesia, meliputi 40
cekungan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan Jawa. Dari jumlah
cekungan tersebut baru 13 cekungan dengan luas sekitar 74 juta ha (sekitar 25%)
yang sudah diselidiki. Sementara cekungan yang telah dilakukan penyelidikan
terbatas sampai pada tahap penyelidikan umum, eksplorasi maupun
eksploitasi baru 3% atau seluas 2,22 juta ha. Oleh karena
itu perlu ditingkatkan penyelidikan tentang keberadaan batubara tersebut. Salah
satu metoda gofisika yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan
batubara adalah metoda geolistrik tahanan jenis. Metoda ini merupakan salah
satu metoda geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman
lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan .
Selanjutnya Loke (1999)
mengungkapkan bahwa survey geolistrik metoda resistivitas mapping dan sounding
menghasilkan informasi perubahan variasi harga resistivitas baik arah lateral
maupun arah vertikal.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Cadangan batubara di indonesia
Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara
Indonesia
berpedoman pada
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara
(Amandemen 1 – SNI – 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya
yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan
terukur (Gambar 1.2). Tahapan
eksplorasi ini mencerminkan tingkat keyakinan geologi dari data teknis yang digunakan
pada proses estimasi
sumber daya batubara.

Gambar 2.1. Klasifikasi Sumber
daya
dan Cadangan Batubara
berdasarkan Amandemen.
Seiring dengan
berjalannya waktu, SNI Klasifikasi Sumber daya dan cadangan
ini mengalami proses
tinjau
ulang hingga akhirnya terbit
SNI yang terbaru yaitu SNI
Pedoman pelaporan, sumberdaya, dan cadangan batubara (SNI 5015:2011). Substansi
SNI
ini lebih difokuskan bagi kepentingan
para
pelaku pengusahaan
batubara. Seperti diketahui, setiap perusahaan batubara
mempunyai kewajiban untuk melaporkan kegiatannya sesuai dengan
kontrak yang sudah ditanda tangani. SNI ini diharapkan dapat
menjadi acuan bagi para pengusaha dalam melaporkan kegiatannya. Mengingat SNI ini lebih ditujukan kepada pengusaha batubara, maka
klasifikasi sumber daya batubaranya
pun
mengalami sedikit perubahan (Gambar 1.3). Pada SNI 2011 ini, kelas sumber daya
hipotetik ditiadakan dengan asumsi sebagai berikut. Sumber daya hipotetik dihasilkan
dari
kegiatan Survei Tinjau
yang biasanya dilakukan oleh Pemerintah. Tidak seharusnya perusahaan
batubara melakukan kegiatan Survei Tinjau. Perusahaan batubara
seharusnya menindaklanjuti
kegiatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan
melakukan survei yang memiliki tingkat
keyakinan geologi yang lebih tinggi. Perusahaan
batubara tidak diperkenankan melaporkan sumber daya hipotetik. Oleh karena itu, kelas sumber daya hipotetik dihilangkan dalam
SNI 2011 ini.

Gambar 2.2.
Klasifikasi
sumber daya dan cadangan
batubara
berdasarkan SNI 5015:2011.
Namun, pemerintah mempunyai
tugas dan kewenangan untuk melakukan
kegiatan
Survei Tinjau dalam upaya menginventarisasi potensi batubara di negeri ini. Sumber daya hipotetik yang dipublikasi oleh Pemerintah tidak hanya berdasarkan asumsi semata, melainkan didukung oleh berbagai data
hasil dari peninjauan lapangan. Sumber daya hipotetik ini mencerminkan potensi negara kita yang belum dimanfaatkan sampai
saat ini. Pemanfaatannya kemungkinan
terkendala oleh berbagai hal, misalnya lokasi endapan batubara di daerah marginal ataupun lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Untuk endapan batubara yang saat ini tumpang tindih dengan
kawasan konservasi, potensi
ini dapat diperuntukkkan bagi Wilayah Pencadangan Negara yang kelak dapat dimanfaatkan apabila kondisinya memungkinkan. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka kelas sumber daya hipotetik tetap dilaporkana dalam
pemutakhiran
Cadangan
batu
bara
di Indoensia tersebar di darah Sumatra, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan
Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13
miliar ton. Besarnya cadangan batu bara
nasional menyebabkan peningkatan produksi batu
bara setiap tahunnya. Menurut
data ESDM, produksi
batu bara Indonesia
meningkat dari 132,352,025
ton per 2004, hingga 275,164,196 ton
pada tahun 2010. Sementara total ekspor meningkat dari 93,758,806 ton
per 2004 hingga 208,000,000 ton per
2010. Statistik data pasokan batu bara dari Direktorat Jendral Mineral dan Batubara
dijabarkan sebagai berikut

Gambar 2.3 Realisasi Produksi, Ekspor, Impor, dan Kebutuhan dalam Negeri
Fajar Widhiyanto mengatakan dengan mencermati volume produksi batu bara tiap tahun,
Indonesia memiliki tingkat
pertumbuhan produksi
sebesar 14,8%. Untuk pertumbuhan ekspor, berdasarkan
data Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI), pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan hingga 15,1% per tahun. Sementara pertumbuhan penjualan domestik hanya
sebesar 13,8%. Ketua umum APBI Kamandanu mengungkapkan pada Konferensi Tahunan Batu bara Indonesia
ke 3, yang berlangsung di Jakarta
(31/3), Indonesia kini
menempati posisi teratas
sebagai eksportir batu bara thermal, melampaui raja ekspor Australia. Kondisi ini
disebabkan karena melimpahnya cadangan batu bara Indonesia. semakin hari
semakin besar, diikuti dengan harga minyak yang semakin melambung, karena batu
bara berperan besar menjadi energi pengganti yang effisien dan ekonomis.
Menurut Singgih dari Masyarakat Batubara Indonesia yang dikutip di majalah
Investor bulan April 2011,
batu bara tak
sekedar komoditas ekonomi,
tetapi juga economic booster. Selain itu, menurut data dari Ditjen Minerba, saat ini batu bara
juga sudah merupakan revenue driver di Indonesia. Hal tersebut disebabkan
karena setiap kenaikan US$1 per ton batu bara, akan memberikan kenaikan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) batu bara sebesar
Rp361 miliar. Sementara PNBP dari mineral dan batu bara tahun 2010
tercatat sebesar Rp18,7
triliun, naik 22%
dari tahun 2009 yang
sebesar Rp15,3 triliun. Kenaikan komoditas batu bara mengikuti kenaikan
harga minyak dunia, karena batubara adalah komoditas subtitusi minyak.
Permintaan batubara
ke depan akan mengalami peningkatan yang cukup besar. Menurut Makmun dari
Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan
(www.majalahtambang.com) permintaan batu
bara dapat diukur berdasarkan kebutuhan impor batu bara dari beberapa negara
maju maupun negara berkembang. Berdasarkan data yang dirilis oleh Merrill Lynch
8 Juni 2010, kebutuhan impor batu bara pada tahun 2009 mencapai 591 metrik ton
(Mt), tahun 2010 diperkirakan naik menjadi 635 Mt dan pada tahun 2015
diperkirakan akan naik menjadi 803 Mt. International Energy Agency (IEA)
memprediksi pada 1990 total konsumsi batubara dunia baru mencapai 3.461 juta
ton, pada 2007 meningkat menjadi 5.522 juta ton atau meningkat sebesar 59,5%,
atau rata-rata 3,5% per
tahun. Kontribusi batu
bara untuk pembangkit
listrik dunia diperkirakan akan
meningkat dari 41%
pada 2006 menjadi
46% pada 2030. Meningkatnya peran
batu bara sebagai
pemasok energi di
masa-masa mendatang membuat
industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak
terkecuali di Indonesia.
Kenaikan
harga dan konsumsi batu bara
menyebabkan banyak Investor
yang tertarik untuk mengelola
bisnis pertambangan batu
bara. Namun menurut
Frans S Imung dalam
artikelnya yang berjudul
“Metamorfosis Bisnis Indika”
di majalah Investor bulan
April 2011, investasi
batu bara tak
hanya diminati di
lahan pertambangan. Di bursa saham, likuiditas saham sektor ini
meningkat tajam, terutama setelah
bencana tsunami melanda Jepang. Hingga April 2011, Jepang membutuhkan 90 juta
ton batu bara. Pasokan dari Indonesia sekitar 28 hingga 30 juta ton. Menurut
Satrio Utomo analis pertambangan dari Universal Broker Indonesia, yang dikutip
di majalah Investor bulan April 2011, emiten batu bara dengan volume pasar spot
besar seperti Indo Tambang Raya
(ITMG) dan Harum
Energy terimbas sentimen
positif karena produk-produk mereka
memang paling banyak
digunakan di Jepang,
Ada banyak pilihan saham batu
bara di daftar emiten BEI. Pilihan saham-saham batu bara di daftar emiten BEI
dijabarkan sebagai berikut:
1. Indika Energy Tbk (INDY)
2. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
3. Indo Tambangraya Megah (ITMG)
4, Bumi Resources Tbk (BUMI)
5. Darma Henwa Tbk (DEWA)
6. Adaro Energy Tbk (ADRO)
7. Brau Coal Energy Tbk (BRAU)
8. Bayan Resources Tbk (BYAN)
9. Harum Energy Tbk (HRUM)
10. Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK)
11. Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
12. Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO)
13. ATPK - ATPK Resources Tbk
14. BORN - Borneo Energy Tbk
Dari ke 14
perusahaan batu bara tersebut, menurut Frans S Imung, perusahaan batu bara
dengan total aset diatas Rp10 triliun adalah Bumi Resources (BUMI), Adaro
Energy (ADRO), Brau Coal (BRAU), dan Indika Energy (INDY). BUMI yang ditopang
Kaltim Prima Coal
memiliki keuanggulan dari sisi keuangan dibanding
emiten batu bara lainnya. Pangsa
pasar BUMI mencapai 38.31% pada tahun 2010, diikuti ADRO sebesar 26.94%,
dan INDY sebesar
18.51%. Perkembangan pangsa
pasar batu bara selama 5 tahun terakhir ketiga emiten
diatas dijabarkan sebagai berikut:
Batu bara memberikan kontribusi
terhadap
pergerakan ekonomi di Indonesia.
Menurut Mashud Toarik dari majalah Investor bulan April 2011, pertambangan
batu bara punya arti
sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Bukan hanya sebagai salah satu
sumber penerimaan negara dalam bentuk pajak maupun royalti, tetapi juga sebagai pemasok
energi primer.
Tingkat ketergantungan
terhadap
batubara
Tingkat ketergantungan
terhadap
batubara
Gambar 2.4. Pangsa Pasar Penjualan Batu Bara Nasional
Menurut Frans S Imung, investasi batu bara yang sangat diminati pada sekor pertambangan oleh investor, minat tersebut juga cukup besar di
sektor bursa saham. Di bursa saham, likuiditas
saham sektor batu
bara meningkat
tajam, terutama setelah bencana tsunami melanda Jepang. Banyak investor yang
tertarik menanamkan modalnya di bursa saham pada
sektor
batu
bara
karena peningkatan
produksi
perusahaan batu bara yang cukup besar, terutama pada ekspor. Namun menurut Edbert
Suryajaya dalam artikelnya berjudul
“How to Read the Sentiment in Stock Market” di majalah Investor bulan Febuari 2011 pada
umumnya sebagian besar investor mulai berinvestasi pada pasar saham yang sudah cukup tinggi. Investor mulai membeli saham karena investor–investor yang lain telah banyak
membeli.
Menuru
Edbert,
banyak sekali investor yang akan terpancing untuk terus menanamkan dananya di pasar
saham karena menganggap
sekarang saat yang tepat untuk berinvestasi. Akibatnya, Investor terjebak dengan membeli saham pada
harga yang sudah tinggi (overvalued stock) dari harga pasar (hasil hitungan harga valuasi fundamentalnya). Apabila investor membeli saham–saham yang sudah mahal, Investor memiliki potensi keuntungan yang terbatas, dan potensi merugi yang lebih besar. Pada akhirnya, saham–saham yang mereka beli disaat yang sudah tepat (menurut
mereka)
mulai
bergerak
turun
dan memberikan kerugian bagi mereka. Menghadapi kondisi demikian, apa
yang mereka lakukan? Edbert menjelaskan, investor yang
menghadapi
kondisi penurunan
harga saham dan menyebabkan kerugian,
mulai menjual saham–saham yang
mereka miliki. Tekanan jual yang semakin
hebat mengakibatkan
harga saham di bursa pun melaju turun,
bahkan
terkadang dengan kecepatan yang
cukup tinggi. Kondisi penurunan yang cukup tinggi dalam periode tersebut akan menyebabkan
saham menjadi sangat murah dari harga
pasar atau undervalue.
Kondisi kerugian
dialami investor karena
kebanyakan investor tidak terlalu paham perihal siklus pasar dan ekonomi, rasio–rasio financial, analisa fundamental,
ataupun pertumbuhan perusahaan. Ketidakpahaman tersebut menyebabkan banyak
dari mereka yang terjebak dengan mengikuti investor yang lain yang terlebih dahulu telah banyak membeli saham. Oleh karena itu, mereka pun seringkali tidak memahami apa yang
menyebabkan harga
saham–saham
yang
mereka beli
disaat yang sudah
tepat (menurut
mereka) mulai bergerak turun dan memberikan kerugian bagi mereka.
3.2 Cadangan Batubara yang ada di
Sulawesi Tenggara
Cadangan
Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih dalam bentuk bitumen padat. Secara
definisi, bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material
organik yang apabila dipanaskan sampai dengan suhu 550oC (proses retort) akan
menghasilkan minyak. Endapan bitumen padat dapat berupa oil shale (serpih
minyak) ataupun tar sand. Kenyataan di lapangan, Indonesia memiliki kedua jenis
endapan bitumen padat tersebut. Oleh karena itu, untuk perhitungan neraca
sumberdaya bitumen padat, data oil shale dan tar sand disajikan dalam tabel
yang terpisah, walaupun pada akhirnya nilai total sumberdaya bitumen padat
adalah penjumlahan dari kedua jenis ini. Pemisahan tabel tersebut bertujuan
untuk memudahkan pihak yang ingin memanfaatkan komoditas tersebut.
Sampai
tahun 2012 ini, sumberdaya oil shale Indonesia adalah sebesar 11.354,94 juta
ton batuan yang terdiri dari juta ton
sumberdaya hipotetik 10.185,73 juta ton dan 1.169,21 juta ton sumberdaya
tereka. Kandungan minyak pada batuan bitumen padat berkisar antara 1-256
liter/ton. Penambahan sumber daya berasal dari penyelidikan Pusat Sumber Daya
Geologi di 4 lokasi, yaitu daerah Waghete (Provinsi Papua), Misool (Provinsi
Papua Barat), Nunukan (Provinsi Kalimantan Timur), Pangkalan Balai (Provinsi
Sumatera Selatan). Sedangkan satu lokasi peneyelidikan di daerah Paniai,
Provinsi Papua tidak memiliki sumber daya karena tidak ekonomis.
Sumberdaya tar sand Indonesia adalah sebesar
153,53 juta ton batuan yang terdiri dari 76,74 juta ton sumberdaya hipotetik
dan 76,79 juta ton sumberdaya tereka dengan kisaran kandungan minyak 5-248
liter/ton. Hal yang menarik dari endapan tar sand ini adalah lokasinya yang
terpusat di satu pulau yaitu Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
3.3 Pemanfaatan
Batu Bara
Penggunaan batubara di dalam negeri
adalah sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit
tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada
industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan
industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan
untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia
(Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar
sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul
oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian
industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri
kecil lainya. Penggunaan batubara untuk PLTU pada tahun 1999 sebesar 26,9 juta
ton, tahun 2004 sebesar 61,5 juta ton dan sampai tahun 2008 perkiraan pemakaian
batubara mencapai 71,8 juta ton. Sedangkan produksi batubara Indonesia sampai
tahun 2006 sebesar 160,4 juta ton, ekspor 120,8 juta ton dan pemakaian dalam
negeri 35,95 juta ton dengan total produksi 156,75 juta ton.
Ada satu produk dari batu bara yang
besar manfaatnya bagi keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia, yaitu
briket batu bara. Briket batu bara merupakan bahan bakar yang telah mengalami
proses pemampatan dan memiliki daya tekan tertentu, berbentuk dan memiliki
ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah digunakan untuk memenuhi
kebutuhan energi masyarakat.
Manfaat batu bara dalam bentuk briket
adalah sebagai beikut:
1)
Cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar yang semakin menipis membuat
kita harus “sedia payung sebelum hujan” dengan cara mencari sumber energi lain untuk
dimanfaatkan, yakni salah satunya batu bara.
2)
Kemudahan teknologi sederhana yang memungkinkan batu bara bisa dibentuk
menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.
3)
Di dalam bumi Indonesia banyak tersedia batu bara yang bisa dijadikan briket
4)
Selain bisa menggantikan bahan bakar minyak, juga bisa menggantikan
peranan kayu bakar untuk memasak. Manfaat batubara bagi kehidupan manusia:
·
bahan bakar pembangkit
listrik
·
produksi besi dan baja
·
bahan bakar pembuatan semen
·
bahan bakar cair.
·
Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat
pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa
produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu
bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak
kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku
kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman.
Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan
batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti
rayon dan nylon.
·
Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan
produk-produk tertentu.
3.4 Potensi BatuBara Di Indonesia
Potensi batu bara di Indonesia sagatlah begitu besar dan
menjanjikan untuk terus dikembangkan. Tingginya cadangan batu bara memungkinkan
pemanfaatannya untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.
Hal itu terungkap dalam Seminar
Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di
Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/12). Bertindak selaku pembicara Ketua
Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat,
Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT
Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.
Muhammad Hatta mengungkapkan,
cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9
miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia.
Berdasarkan data dari Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225
juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150
juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198
juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton). "Di dalam negeri, batu bara
digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,"
Iwan Munajat mengatakan, tingginya
produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena
masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi.
Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya
teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul. Saat ini, Sumber
energi yang masih banyak digunakan masih didominasi minyak bumi. Iwan
menyebutkan, penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006
mencapai 53 persen, batu bara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya
4 persen.
Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi
perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30
persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen). "Kesadaran
ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat
nanti," pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik
perlahan akan tergantikan oleh batu bara karena potensinya yang begitu besar. Selain
batu bara, lanjut Iwan, potensi sumber daya mineral di Indonesia sangat besar
dan belum banyak digarap investor. Kendala yang muncul adalah ketidakpastian
perundang-undangan, yang tidak sepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah, dan tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.
Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari
71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari
segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi
target investor. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia baru 3.461
ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat sebesar 59,5%
atau 3,5% per tahun. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi
energi dunia akan tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2010-2015 dan
melambat menjadi 1,7% pertahun
sepanjang tahun 2015-2030.
meningkatnya konsumsi batubara
dunia tidak lepas dari meningkat pesannya permintaan energi dunia dimana
batubara merupakan pemasok energi terbesar setelah minyak dengan kontribusi
26%, World Energy Council memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.448 juta ton pada akhir tahun 2007 tersebar dilebih dari 50
negara. Berdasarkan kandungan kalorinya, sebesar 50,8% antrasit (kalori sangat
tinggi) dan bituminus (kalori tinggi), dan 48,2% berupa sub bituminus (kalori
sedang) dan lignit (kalori rendah). Dengan tingkat produksi saat ini menurut
IEA, maka batubara dapat dieksploitasi setidaknya sampai minimal 133 tahun
kedepan, jauh lebih lama dengan minyak dan gas bumi yang masing-masing hanya
hanya dapat dieksploitasi sekitar 42 tahun dan 60 tahun kedepan.
Meskipun tersebar dilebih dari 50 negara, sekitar 76,3%
cadangan batubara terbukti terkonsentrasi di 5 negara yakni Amerika Serikat
(28,6%), Rusia (18,5%), China (13,5%), Australia (9%), dan India (6,7%) seperti
terlihat pada gambar 2.1. Pada tahun 2007 kelima negara memberikan kontribusi
sebesar 82% terhadap total produksi batubara dunia yang sebesar 5.543 juta ton.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari makalah ini yaitu
1. Pengelompokkan neraca sumber daya dan cadangan batubara
Indonesia
berpedoman pada
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional. SNI yang dimaksud berjudul Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara
(Amandemen 1 – SNI – 13-5014-1998). Dalam SNI ini, sumber daya batubara dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya
yaitu sumber daya hipotetik, tereka, tertunjuk dan
terukur.
Cadangan batu
bara
di Indoensia tersebar di darah Sumatra, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan
Papua. Menurut management batubara-indonesia memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti
mencapai 847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Bambang Setiawan yang dikutip di majalah Investor bulan April 2011, sumber daya dan cadangan batu bara nasional sebesar 105,2 miliar ton. Sedangkan nilai cadangan sebesar 21,13 miliar ton. Besarnya cadangan batu bara
nasional menyebabkan peningkatan produksi batu
bara setiap tahunnya.
2. Cadangan Batubara yang ada di sulawesi tenggara masih
dalam bentuk bitumen padat. Secara definisi, bitumen padat merupakan batuan
sedimen yang mengandung material organik yang apabila dipanaskan sampai dengan
suhu 550oC (proses retort) akan menghasilkan minyak.
3.
Penggunaan batubara di dalam negeri adalah sebagai sumber
energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan
industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti
pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan
timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke
berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan,
Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya
adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen
yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia,
kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya.
4.
Batubara merupakan salah satu sumber energi yang banyak
dipergunakan untuk pembangkit listrik, dimana konsumsi batubara dunia mengalami
kenaikan yang sangat pesat. Bila pada tahun 1990 total konsumsi batubara dunia
baru 3.461 ton, pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.522 ton atau meningkat
sebesar 59,5% atau 3,5% per tahun.
4.2
Saran
Adapun sarannya yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya
alam batubara dan minyak bumi semakin berkurang, kondisi ini diperparah lagi
dengan tidak dapatnya diperbaharui; untuk itu kita harus menghemat
penggunaan batu bara dan minyak bumi.
2. Lakukan
pelestarian sumber daya alam dengan tidak terlalu melakukan eksploitasi Sumber
daya alam.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar